Selamat datang di blog Yudi Friansyah, Semoga blog ini dapat bermanfaat untuk rekan semua

Jumat, 12 Agustus 2011

Makalah Cacing pipih

Posted by rafly 05.55, under | No comments

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Istilah cacing sering digunakan untuk pengertian hewan kecil bertubuh memeanjang dan tidak mampnyai kaki, memang, dulupun para ahli hewan menganggap bahwa semua cacing memiliki persamaan-persamaan yang khas sehingga mereka menggolongkanya kedalam satu filum vermes.
Vermes (kata vermes berasala dari bahasa latin yang artinya cacing), ujung posterior (ujung belakan, ekor), permukaan dorsal (perut) permukaan ventral (permukaan bawah perut), sedangkan tubuhnya dibagi menjadi bagian kanan dan bagian kiri yang sama, dengan kata lain tubuh cacing itu simetrs bilateral.
Sekarang para ahli sepakat bahwa cacing- cacing tidak dapat digolongkan dalam satu filum karna ada ada tiga filum yaitu; Plathyhelmites, Nermathelminthes dan Annelida
Dalam penulisan makalah ini, penyusun hanya mengambila satu filum yang akan diuraikan diuraikan dalam pembuatan maklah ini yang berjudul PLATYHELMINTHES, karena kebanyakan Platyhelminthes hidup sebagai parasit, umumnya dapat merugikan manusia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud Platyhelminthes?
2. Apa ciri-ciri Filum Platyhelminthes?
3. Apa klasifikasi dari filum Plathelminthes?
4. Bagaimana peranan Platyhelminthes bagi kehidupan manusia?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Platyhelminthes
2. Untuk Mengetahui Pengertian filum Platyhelminthes
3. Untuk Mengetahui Pengertian klasifikasi dari filum Plathelminthes
4. Untuk Mengetahui Pengertian peranan Platyhelminthes bagi kehidupan manusia


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Platyhelminthes
Platyhelminthes besal dari bahasa yunani yaitu platy yang berarti pipih dan helminth yang berarti cacing, dengan demikian platyhelminthes secara keseluruhan dapat dapat diartikan sebagai cacing pipih.
Hewan-hewan yang termasuk kedalam filum ini sudah memiliki alat-alat yang sederhana, seperti faring yang bersifat muscular, alat-alat pengeluaran (oragan ekskretorius) alat-alat kelamin (organ genetalis) dan lain-lain, namun demikian paltyhelminthes memiliki sistem gastrovasikuler seperti yang terdapat pada coelontereta dengan hanya memiliki satu muara, yaitu mulut yang sekaligus sebagai Anus.
Tubuh platyhelminthes terdiri dari tiga lapisan jaringan, oleh karena itu hewan-hewan yang terdapat dalam filum ini juga di kelompokan sebagai hewan triploblastik, ketiga jaringan yang terdapat pada pltyhelminthes yaitu ektodermis (lapisan luar), mesodermis (lapisan tengah) dan endodermis (lapisan dalam).
Pada cacing pipih (platyhelminthes) mulai terlihat sefalisasi (cephalisasi) yaitu adanya pemusatan sel-sel saraf dibangun di depan (anterior) tubuhnya, planaria merupakan contoh yang sangat baik karena sel-sel sarafnya terkonsentrasi menjadi sebuah ganglion kepala atau otak primitive. Dari ganglion kepala terdapat dua talisaraf yang memanjang kebelakang tubuhnya membentuk seperti tangga, karena itu disebut saraf tangga tali.
B. Ciri-ciri Platyhelminthes
Hewan-hewan yang termasuk ke dalam filum platyhelminthes memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut:
• Tubuhnya berbentuk pipih dengan beberapa bentuk seperti pita, keadaan tubuhnya lunak dan tidak memiliki segmen-segmen (berbuku-buku)
• Tidak memiliki sistem peredaran darah
• Sistem ekresinya dibangun oleh sel-sel berbulu getar yang disebut sel api (selenosit) dengan saluran-saluranekresinya.
• Memiliki kulit luar yang lunak, bersilia atau tertutup oleh lapisan kutikula yang dilengkapi dengan alat penghisap.
• Sisitem saraf terdiri atas ganglion otak dengan saraf-saraf tepi
• Reproduksinya berlangsung secara generatif, testis damn ovarium terdapat bersama-sama dalam satu individu.
• Umumnya ditemukan sebagai parasit yang hidup bebas, turbellaria yang hidup sebagai tidak berparasit.
C. Klasifikasi Platyhelminthes
Platyhelminthes dalam sistem klasifikasi dibagi atas tiga kelas, yaitu turbellaria (cacing berambut getar) trematoda ( cacing hisap) dan cestoda ( cacing pita).
1. Turbellaria ( cacing berambut getar)
Hewan dari kelas Turbellaria memiliki tubuh bentuk tongkat atau bentuk rabdit (Yunani: rabdit = tongkat). Hewan ini biasanya hidup di air tawar yang jernih, air laut atau tempat lembab dan jarang sebagai parasit. Tubuh memiliki dua mata dan tanpa alat hisap, Hewan ini mempunyai kemampuan yang besar untuk beregenerasi dengan cara memotong tubuhnya
Hewan yang termasuk kedalam kelas ini meiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pada saat dewasa memiliki rambut getar (bersilia)
b. Sistem reproduksinya hermafrodit.
c. Tubuhnya memiliki daya regenerasi yang baik, yaitu memiliki kemampuan memperbaiki tubuh yang rusak.
d. Memiliki bintik mata yang hanya bias membedakan yang gelap dan yang terang.
e. Hidup bebas diair tawar, atau laut, terkadang ditemukan dalam tanah yang basah.
Contoh spesies tulbelaria yaitu palnaria (Dugesia tigrina) yang dapat ditemukan dikolam atau disungai, biasanya melekat pada batu atau daun-daun yang terendam air.
Panjang tubuh planaria kira-kira 2 cm, mempunyai parenkim yang di dalamnya terdapat saluran pencernaan, alat-alat reproduksi, sistem ekresi dan ssstem saraf, pada parenkim itu terdapat pula lapisan-lapisan otot yang berguna untuk mengadakan gerak. Selain dengan otot, gerak adapat pula dilakukan dengan silia yang terdapat permukaan tubuhnya.
Saluran pencernaan hanya memiliki satu muara keluar mulutnya yang terdapat agak kebelakang dari pertengahan tubuh, saluran pencernaan memiliki satu cabang yang menuju kearah anterior (depan) dan dua cabang kearah posterior (belakang) masing-masing cabang bercabang-cabang lagi sehingga dapat mengisi sebagian besar tubuh hewan,
Sistem ekresi terdiri sel-sel api yang tersebar didalam parenkim, sel-sel api ini akan berhubungan dengan saluran-saluran yang akhirnya akan bermuara keluar tubuh melalui sederetan pori, masing-masing sel api berongga, mempunyai sekelompok rambut-rambut getar oleh sebab itu cacing tullbelaria juga disebut cacing berambut getar, gerakan Rambut getar ini mendoriong cairan masuk kedalam saluran ekresi itu,
Sistem saraf terdiri dari sel-sel dan serabut sarafnya membentuk semacam jala tali saraf-saraf ini di bagian anterior mempunyai lagi dan membentuk ganglion otak dan dan dianggap sebagai otaknya
Palnaria bersifat hemaprodit, pada planaria terdapat beberapa alat-alat tambahan selain berkembang biak secara generatif, hewan ini mempunyai daya regenerasi yang amat besar, jika tubuh seekor planaria di potong menjadi dua, masing-masing akan berkembang menjadi hewan lagi, potongan yang tidak mempunyai ekor akan membentuk ekor, sedangkan yang tidak berkepala akan membentuk kepala.
2. Kelas Trematoda (cacing hisap)
Trematoda merupakan Hewan yang memiliki tubuh yang diliputi kutikula dan tak bersilia. Pada ujung anterior terdapat mulut dengan alat penghisap yang dilengkapi kait. Tubuh dengan panjang lebih kurang 2,5 cm dan lebar 1cm serta simetrisbilateral.
Trematoda termasuk hewan hemafrodit, dan sebagai parasit pada Vertebrata baik berupa ektoparasit (pada ikan) maupun sebagai endoparasit. Contoh hewan Trematoda adalah cacing hati atau Fasciola hepatica (parasit pada hati domba), Fasciola gigantica (parasit pada hati sapi) dan cacing hati parasit pada manusia (Chlonorchis sinensis) serta Schistosoma japonicum (cacing darah). Dan hidup sebagai parasit yang mempunyai daur hidup yang rumit, permukaan tubuhnya tidak tertutup oleh silia, pada umumnya trematoda mempunyai alat penghisap atau lebih sering disebut cacing isap, hewan yang termasuk kedalam trematoda memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. memiliki bentuk tubuh seperti daun dan tidak bersilia
2. memiliki alat hisap satu atau dua buah
3. hidup sebagai parasit dan memiliki satu atau dua inang perantara (hospes)
4. pada umumnya terdapat hermaprodit, tetapi bebearapa juga bersifat gonokharis.
Contoh trematoda yang paling dikenal adalah fasciola hepatica atau cacing hati, panjang tubuhnya antara 2 sampai dengan 5 cm, sedangkan lebarnya sekitat 1 cm, hidupnya terdapat di dalam hati ternak, beberapa sifatnya mirip-mirip dengan sifat planaria, misalnya menyangkut simetri bilateral, sel-sel api dan sistem saraf, mempunyai dua buah alat penghisap, yang satu mengelilingi mulut dan yang satu lagi pada permukaan ventral, tidak terlalu jauh dibelakang mulut
Saluran pencernaan di mulai dari mulut yang terdapat pada ujung depan dan dikelilingi oleh alat-alat penghisap dimulut, dalam tubuh saluran hewan ini menjadi pembuluh yang kemudian dillanjutkan dengan usus yang terdiri dari dua cabang, masing-masing cabang-cabang dapat bercabang-cabang yang lebih banyak.
Reproduksi pada fasciola hepatica sangat istiumewa, daur hidupnya menempuh jalan yang berliku-liku, fasciola hepatica ini bersifat hermafrodit dan hidup sebagai parasit dalam hati hewan.
Dari setiap individu fasciola hepatica dapat di hasilkan ratusan ribu telur, telur ini melalui saluran empedu hewan yang inangya masuk kedalam usus, kemudian bersama-sama dengan tinja keluar ke dalam bebas, telur ferfil yang dapat mencapai tempat basah menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium
Mirasidium dapat masuk kedalm tubuh keong, karena akan mati jika tidak masuk kedalam tubuhnya, biasanya mirasidium bias hidup dalam bebas kurang lebih delapan jam, bila m,irasidium dapat masuk kedalam tubuh keong, dalam waktu kira-kira dua minggu maka larva itu akan berubah menjadi agak bulat, dsebut sporosista.
Sporosista akhirnya pecah dengan menghasilkan beberapa larva kedua yang masing-masing disebut redia, redia masuk kedalam tubuh keong dan menghasilkan “anak” yang berupa redia pula untuk satu generasi atau lebih, dan akhirnya dihasilkan larva ketiga yang disebut sekaria, sekaria mempunyai ekor dan berbentuk seperti berudu, lalu meninggalkan tubuh keong, lalu tidak lama berenang dengan ekornya dan kemudian berubah menjadi sista, sista ini dapat bertahan lama, jika sista termakan oleh ternak maka kulit sista itu akan larut dan munclah cacing hati yang akan menuju kehati, kemudian menjadi dewasa disana,
3. Cestoda (cacing pita)
Cestoda ini dapat mempunyai tubuh yang amat panjang, bahkan lebih panjang daripada usus hewan vertebrata yang ditempatinya, karena bentuknya pipih seperti pita maka cacing ini dikenal dengan cacing pita,tubuhnya terdiri dari segmen-segmen yang masing-masinmg disebut proglottid , kepala disebut skolek dan memiliki alat isap (sucker)yang memiliki kait (restulum) yang terbuat dari kitin, pembuatan segmen (segmentasi) pada cacing pita disebut strobilasi. Sebagai contoh :
 Taenia solium (cacing pita pada manusia)
Menyebabkan taeniasis pada skoleknya terdapat kait-kait proglotid yang matang menjadi alat reproduksinya menjadi hospes perantara pada babi.
Siklus hidupnya:
Proglottid yang sudah matang ( terdapat pada feses) bila tertelan oleh babi menjadi embrio heksakan, menembus usus dan melepaskan kait-kaitnya selanjutnya menjadi larva sistiterkus ( dalam otot lurik babi) dan tertelan oleh manusia dan menjadi cacing dewasa.


 Taenia saginata (cacing pita pada manusia)
Menyebabkan taenia saginata, pada skoleknya tidak terdapat kait-kait dan memiliki hospes perantara pada sapid an dur hidupnya sama seperti taenia solium.
 Diphillobothrium latum
Menyebabkan penyakit Diphyllobothriasis, parasit pada manusiadengan hospes perantara berupa katak sawah. (Rana cancrivora),ikan dan Cyclops.
 Echinococcus granlocus
Merupakan cacing pita pada anjing
 Himenolepis nana
Cacing pita yang hidup dalam usus manusia dan tikus, dan tidak memiki hospes perantara.


Hewan-hewan yang termasuk cestoda (cacing pita) memiliki ciri-ciri antara lain:
a. Tubuhnya panjang seperti pita
b. Terdiri atas rangkaian segmen yang disebut proglittid
c. Memiliki alat penghisap yang berotot dan dilengkapi dengan kait-kait yang terbuat dari kritin yang disebut restelum.
d. Tubuhnya tidak memiliki mulut dan saluran pencernaan.
e. Makanan diserap melalui seluruh tubuhnya
f. Alat reproduksinya terdapt pada proglotid yang matang serta bersifat hermafrodit.
g. Umumnya bersifat parasit.
Contoh Cestoda yang akan diuraikan dalam makalah ini yaitu: taenia solium. Cacing ini hidup sebagai parasit pada manusia dengan inang perantara babi, panjang tubuhnya dapat lebih dari 3 meter, pada skoleks terdapat pada empat alat penghisap berotot dan kait-kait kritin yang tersusun dalam lingkaran, proglotid-proglotid baru ini bentuk dari daerah tepat di belakang skoleks dan mendesak segmen-segmen yang terbentuk lebih dulu semakin jauh kebelakang, sementara tumbuh, prolotid-prolotid memperkembangkan alat-alat reproduksi hermafrodit yang semakin kompleks.
Proglotid merupakan selubung yang melinungi embrio, melepaskan dirti dari usus inangnya untuk keluar ke alam bebas, proglotid yang masak jika tertelan oleh babi akan hancur di dalam perut inang, selubung telurnya larut, dan bebaslah embrio yang disebut heksakan, heksakan akan menembus dinding usus kemudian beristirahat di dalam otot atau jaringan lain dari babi, di sana tubuhnya bertambah besar, melepaskan kait-kaitnya dan mengalami perubahan bentuk menjadi sistireskus, sisiterkus ini dapat tertelan oleh manusia.

D. Peranan paltyhelminthes bagi kehidupan manusia
Karena kebanyakan platyhelminthes hidup sebagai parasit, pada umunya filum ini akan merugikan manusia, selain manusia, ada pula cacing pita inag domba dan anjing, dulu amat banyak orang-orang cina, jepang dan korea yang menderita karena penyakit parasit, clonorchis, disamping belum berkembang ilmu kesehatan, maka mereka juga suka makan ikan mentah atau setengah matang.
Usaha-usaha untuk mencegah infeksi cacing pita pada manusia dan pada inag lain biasanya dengan memutuskan daur cacing pita, baik dengan cara mencegah jangan sampai inang perantara terkena infeksi maupun dengan jalan mencegah jangan sampai inag sendiri terkjena infeksi, selain itu juga pembuangan tinja manusia perlu diatur menurut syarat-syarat kesehatan sehingga tidak memungkinkan heksakan yang keluar bersama tinja-tinja itu sampai tertelan babi, sementara itu semua daging babi, sapid an ikan yang mungkin mengandung sisteserkus harus dimask sebaik-baiknya oleh manusia.


BAB III
KESIMPULAN

Filum Platyhelminthes secara keseluruhan dapat diartikan sebagai cacing pipih, filum ini jug adapt dikelompokan sebagai hewan triploblastik yang artinya tiga jaringan lapisan yang terdapat pada pktyhelminthes, yaitu ektodermis ( lapisan luar),mesodermis ( lapisan tengah) dan endodermis (lapisan dalam)
Ciri dari filum Platyhelminthes ini, yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih, tidak terdapt rongga tubuh dan alat pencernaanya masih belum sempurna, kebanyak platyhelminthes hidup sebagai parasit baik pada hewan atau manusia kecuali pada tulbaleria, disamping itu ada pula yng hidup di perairan, platyhelminthes dalam sisitem klasifikasi dinbagi menjadi tiga kelas yaitu turbellaria, trematoda dan cestoda.
















































0 komentar:

Poskan Komentar