Selamat datang di blog Yudi Friansyah, Semoga blog ini dapat bermanfaat untuk rekan semua
Tampilkan postingan dengan label Makalah Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Biologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Makalah Cacing pipih

Posted by rafly 05.55, under | No comments

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Istilah cacing sering digunakan untuk pengertian hewan kecil bertubuh memeanjang dan tidak mampnyai kaki, memang, dulupun para ahli hewan menganggap bahwa semua cacing memiliki persamaan-persamaan yang khas sehingga mereka menggolongkanya kedalam satu filum vermes.
Vermes (kata vermes berasala dari bahasa latin yang artinya cacing), ujung posterior (ujung belakan, ekor), permukaan dorsal (perut) permukaan ventral (permukaan bawah perut), sedangkan tubuhnya dibagi menjadi bagian kanan dan bagian kiri yang sama, dengan kata lain tubuh cacing itu simetrs bilateral.
Sekarang para ahli sepakat bahwa cacing- cacing tidak dapat digolongkan dalam satu filum karna ada ada tiga filum yaitu; Plathyhelmites, Nermathelminthes dan Annelida
Dalam penulisan makalah ini, penyusun hanya mengambila satu filum yang akan diuraikan diuraikan dalam pembuatan maklah ini yang berjudul PLATYHELMINTHES, karena kebanyakan Platyhelminthes hidup sebagai parasit, umumnya dapat merugikan manusia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud Platyhelminthes?
2. Apa ciri-ciri Filum Platyhelminthes?
3. Apa klasifikasi dari filum Plathelminthes?
4. Bagaimana peranan Platyhelminthes bagi kehidupan manusia?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Platyhelminthes
2. Untuk Mengetahui Pengertian filum Platyhelminthes
3. Untuk Mengetahui Pengertian klasifikasi dari filum Plathelminthes
4. Untuk Mengetahui Pengertian peranan Platyhelminthes bagi kehidupan manusia


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Platyhelminthes
Platyhelminthes besal dari bahasa yunani yaitu platy yang berarti pipih dan helminth yang berarti cacing, dengan demikian platyhelminthes secara keseluruhan dapat dapat diartikan sebagai cacing pipih.
Hewan-hewan yang termasuk kedalam filum ini sudah memiliki alat-alat yang sederhana, seperti faring yang bersifat muscular, alat-alat pengeluaran (oragan ekskretorius) alat-alat kelamin (organ genetalis) dan lain-lain, namun demikian paltyhelminthes memiliki sistem gastrovasikuler seperti yang terdapat pada coelontereta dengan hanya memiliki satu muara, yaitu mulut yang sekaligus sebagai Anus.
Tubuh platyhelminthes terdiri dari tiga lapisan jaringan, oleh karena itu hewan-hewan yang terdapat dalam filum ini juga di kelompokan sebagai hewan triploblastik, ketiga jaringan yang terdapat pada pltyhelminthes yaitu ektodermis (lapisan luar), mesodermis (lapisan tengah) dan endodermis (lapisan dalam).
Pada cacing pipih (platyhelminthes) mulai terlihat sefalisasi (cephalisasi) yaitu adanya pemusatan sel-sel saraf dibangun di depan (anterior) tubuhnya, planaria merupakan contoh yang sangat baik karena sel-sel sarafnya terkonsentrasi menjadi sebuah ganglion kepala atau otak primitive. Dari ganglion kepala terdapat dua talisaraf yang memanjang kebelakang tubuhnya membentuk seperti tangga, karena itu disebut saraf tangga tali.
B. Ciri-ciri Platyhelminthes
Hewan-hewan yang termasuk ke dalam filum platyhelminthes memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut:
• Tubuhnya berbentuk pipih dengan beberapa bentuk seperti pita, keadaan tubuhnya lunak dan tidak memiliki segmen-segmen (berbuku-buku)
• Tidak memiliki sistem peredaran darah
• Sistem ekresinya dibangun oleh sel-sel berbulu getar yang disebut sel api (selenosit) dengan saluran-saluranekresinya.
• Memiliki kulit luar yang lunak, bersilia atau tertutup oleh lapisan kutikula yang dilengkapi dengan alat penghisap.
• Sisitem saraf terdiri atas ganglion otak dengan saraf-saraf tepi
• Reproduksinya berlangsung secara generatif, testis damn ovarium terdapat bersama-sama dalam satu individu.
• Umumnya ditemukan sebagai parasit yang hidup bebas, turbellaria yang hidup sebagai tidak berparasit.
C. Klasifikasi Platyhelminthes
Platyhelminthes dalam sistem klasifikasi dibagi atas tiga kelas, yaitu turbellaria (cacing berambut getar) trematoda ( cacing hisap) dan cestoda ( cacing pita).
1. Turbellaria ( cacing berambut getar)
Hewan dari kelas Turbellaria memiliki tubuh bentuk tongkat atau bentuk rabdit (Yunani: rabdit = tongkat). Hewan ini biasanya hidup di air tawar yang jernih, air laut atau tempat lembab dan jarang sebagai parasit. Tubuh memiliki dua mata dan tanpa alat hisap, Hewan ini mempunyai kemampuan yang besar untuk beregenerasi dengan cara memotong tubuhnya
Hewan yang termasuk kedalam kelas ini meiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pada saat dewasa memiliki rambut getar (bersilia)
b. Sistem reproduksinya hermafrodit.
c. Tubuhnya memiliki daya regenerasi yang baik, yaitu memiliki kemampuan memperbaiki tubuh yang rusak.
d. Memiliki bintik mata yang hanya bias membedakan yang gelap dan yang terang.
e. Hidup bebas diair tawar, atau laut, terkadang ditemukan dalam tanah yang basah.
Contoh spesies tulbelaria yaitu palnaria (Dugesia tigrina) yang dapat ditemukan dikolam atau disungai, biasanya melekat pada batu atau daun-daun yang terendam air.
Panjang tubuh planaria kira-kira 2 cm, mempunyai parenkim yang di dalamnya terdapat saluran pencernaan, alat-alat reproduksi, sistem ekresi dan ssstem saraf, pada parenkim itu terdapat pula lapisan-lapisan otot yang berguna untuk mengadakan gerak. Selain dengan otot, gerak adapat pula dilakukan dengan silia yang terdapat permukaan tubuhnya.
Saluran pencernaan hanya memiliki satu muara keluar mulutnya yang terdapat agak kebelakang dari pertengahan tubuh, saluran pencernaan memiliki satu cabang yang menuju kearah anterior (depan) dan dua cabang kearah posterior (belakang) masing-masing cabang bercabang-cabang lagi sehingga dapat mengisi sebagian besar tubuh hewan,
Sistem ekresi terdiri sel-sel api yang tersebar didalam parenkim, sel-sel api ini akan berhubungan dengan saluran-saluran yang akhirnya akan bermuara keluar tubuh melalui sederetan pori, masing-masing sel api berongga, mempunyai sekelompok rambut-rambut getar oleh sebab itu cacing tullbelaria juga disebut cacing berambut getar, gerakan Rambut getar ini mendoriong cairan masuk kedalam saluran ekresi itu,
Sistem saraf terdiri dari sel-sel dan serabut sarafnya membentuk semacam jala tali saraf-saraf ini di bagian anterior mempunyai lagi dan membentuk ganglion otak dan dan dianggap sebagai otaknya
Palnaria bersifat hemaprodit, pada planaria terdapat beberapa alat-alat tambahan selain berkembang biak secara generatif, hewan ini mempunyai daya regenerasi yang amat besar, jika tubuh seekor planaria di potong menjadi dua, masing-masing akan berkembang menjadi hewan lagi, potongan yang tidak mempunyai ekor akan membentuk ekor, sedangkan yang tidak berkepala akan membentuk kepala.
2. Kelas Trematoda (cacing hisap)
Trematoda merupakan Hewan yang memiliki tubuh yang diliputi kutikula dan tak bersilia. Pada ujung anterior terdapat mulut dengan alat penghisap yang dilengkapi kait. Tubuh dengan panjang lebih kurang 2,5 cm dan lebar 1cm serta simetrisbilateral.
Trematoda termasuk hewan hemafrodit, dan sebagai parasit pada Vertebrata baik berupa ektoparasit (pada ikan) maupun sebagai endoparasit. Contoh hewan Trematoda adalah cacing hati atau Fasciola hepatica (parasit pada hati domba), Fasciola gigantica (parasit pada hati sapi) dan cacing hati parasit pada manusia (Chlonorchis sinensis) serta Schistosoma japonicum (cacing darah). Dan hidup sebagai parasit yang mempunyai daur hidup yang rumit, permukaan tubuhnya tidak tertutup oleh silia, pada umumnya trematoda mempunyai alat penghisap atau lebih sering disebut cacing isap, hewan yang termasuk kedalam trematoda memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. memiliki bentuk tubuh seperti daun dan tidak bersilia
2. memiliki alat hisap satu atau dua buah
3. hidup sebagai parasit dan memiliki satu atau dua inang perantara (hospes)
4. pada umumnya terdapat hermaprodit, tetapi bebearapa juga bersifat gonokharis.
Contoh trematoda yang paling dikenal adalah fasciola hepatica atau cacing hati, panjang tubuhnya antara 2 sampai dengan 5 cm, sedangkan lebarnya sekitat 1 cm, hidupnya terdapat di dalam hati ternak, beberapa sifatnya mirip-mirip dengan sifat planaria, misalnya menyangkut simetri bilateral, sel-sel api dan sistem saraf, mempunyai dua buah alat penghisap, yang satu mengelilingi mulut dan yang satu lagi pada permukaan ventral, tidak terlalu jauh dibelakang mulut
Saluran pencernaan di mulai dari mulut yang terdapat pada ujung depan dan dikelilingi oleh alat-alat penghisap dimulut, dalam tubuh saluran hewan ini menjadi pembuluh yang kemudian dillanjutkan dengan usus yang terdiri dari dua cabang, masing-masing cabang-cabang dapat bercabang-cabang yang lebih banyak.
Reproduksi pada fasciola hepatica sangat istiumewa, daur hidupnya menempuh jalan yang berliku-liku, fasciola hepatica ini bersifat hermafrodit dan hidup sebagai parasit dalam hati hewan.
Dari setiap individu fasciola hepatica dapat di hasilkan ratusan ribu telur, telur ini melalui saluran empedu hewan yang inangya masuk kedalam usus, kemudian bersama-sama dengan tinja keluar ke dalam bebas, telur ferfil yang dapat mencapai tempat basah menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium
Mirasidium dapat masuk kedalm tubuh keong, karena akan mati jika tidak masuk kedalam tubuhnya, biasanya mirasidium bias hidup dalam bebas kurang lebih delapan jam, bila m,irasidium dapat masuk kedalam tubuh keong, dalam waktu kira-kira dua minggu maka larva itu akan berubah menjadi agak bulat, dsebut sporosista.
Sporosista akhirnya pecah dengan menghasilkan beberapa larva kedua yang masing-masing disebut redia, redia masuk kedalam tubuh keong dan menghasilkan “anak” yang berupa redia pula untuk satu generasi atau lebih, dan akhirnya dihasilkan larva ketiga yang disebut sekaria, sekaria mempunyai ekor dan berbentuk seperti berudu, lalu meninggalkan tubuh keong, lalu tidak lama berenang dengan ekornya dan kemudian berubah menjadi sista, sista ini dapat bertahan lama, jika sista termakan oleh ternak maka kulit sista itu akan larut dan munclah cacing hati yang akan menuju kehati, kemudian menjadi dewasa disana,
3. Cestoda (cacing pita)
Cestoda ini dapat mempunyai tubuh yang amat panjang, bahkan lebih panjang daripada usus hewan vertebrata yang ditempatinya, karena bentuknya pipih seperti pita maka cacing ini dikenal dengan cacing pita,tubuhnya terdiri dari segmen-segmen yang masing-masinmg disebut proglottid , kepala disebut skolek dan memiliki alat isap (sucker)yang memiliki kait (restulum) yang terbuat dari kitin, pembuatan segmen (segmentasi) pada cacing pita disebut strobilasi. Sebagai contoh :
 Taenia solium (cacing pita pada manusia)
Menyebabkan taeniasis pada skoleknya terdapat kait-kait proglotid yang matang menjadi alat reproduksinya menjadi hospes perantara pada babi.
Siklus hidupnya:
Proglottid yang sudah matang ( terdapat pada feses) bila tertelan oleh babi menjadi embrio heksakan, menembus usus dan melepaskan kait-kaitnya selanjutnya menjadi larva sistiterkus ( dalam otot lurik babi) dan tertelan oleh manusia dan menjadi cacing dewasa.


 Taenia saginata (cacing pita pada manusia)
Menyebabkan taenia saginata, pada skoleknya tidak terdapat kait-kait dan memiliki hospes perantara pada sapid an dur hidupnya sama seperti taenia solium.
 Diphillobothrium latum
Menyebabkan penyakit Diphyllobothriasis, parasit pada manusiadengan hospes perantara berupa katak sawah. (Rana cancrivora),ikan dan Cyclops.
 Echinococcus granlocus
Merupakan cacing pita pada anjing
 Himenolepis nana
Cacing pita yang hidup dalam usus manusia dan tikus, dan tidak memiki hospes perantara.


Hewan-hewan yang termasuk cestoda (cacing pita) memiliki ciri-ciri antara lain:
a. Tubuhnya panjang seperti pita
b. Terdiri atas rangkaian segmen yang disebut proglittid
c. Memiliki alat penghisap yang berotot dan dilengkapi dengan kait-kait yang terbuat dari kritin yang disebut restelum.
d. Tubuhnya tidak memiliki mulut dan saluran pencernaan.
e. Makanan diserap melalui seluruh tubuhnya
f. Alat reproduksinya terdapt pada proglotid yang matang serta bersifat hermafrodit.
g. Umumnya bersifat parasit.
Contoh Cestoda yang akan diuraikan dalam makalah ini yaitu: taenia solium. Cacing ini hidup sebagai parasit pada manusia dengan inang perantara babi, panjang tubuhnya dapat lebih dari 3 meter, pada skoleks terdapat pada empat alat penghisap berotot dan kait-kait kritin yang tersusun dalam lingkaran, proglotid-proglotid baru ini bentuk dari daerah tepat di belakang skoleks dan mendesak segmen-segmen yang terbentuk lebih dulu semakin jauh kebelakang, sementara tumbuh, prolotid-prolotid memperkembangkan alat-alat reproduksi hermafrodit yang semakin kompleks.
Proglotid merupakan selubung yang melinungi embrio, melepaskan dirti dari usus inangnya untuk keluar ke alam bebas, proglotid yang masak jika tertelan oleh babi akan hancur di dalam perut inang, selubung telurnya larut, dan bebaslah embrio yang disebut heksakan, heksakan akan menembus dinding usus kemudian beristirahat di dalam otot atau jaringan lain dari babi, di sana tubuhnya bertambah besar, melepaskan kait-kaitnya dan mengalami perubahan bentuk menjadi sistireskus, sisiterkus ini dapat tertelan oleh manusia.

D. Peranan paltyhelminthes bagi kehidupan manusia
Karena kebanyakan platyhelminthes hidup sebagai parasit, pada umunya filum ini akan merugikan manusia, selain manusia, ada pula cacing pita inag domba dan anjing, dulu amat banyak orang-orang cina, jepang dan korea yang menderita karena penyakit parasit, clonorchis, disamping belum berkembang ilmu kesehatan, maka mereka juga suka makan ikan mentah atau setengah matang.
Usaha-usaha untuk mencegah infeksi cacing pita pada manusia dan pada inag lain biasanya dengan memutuskan daur cacing pita, baik dengan cara mencegah jangan sampai inang perantara terkena infeksi maupun dengan jalan mencegah jangan sampai inag sendiri terkjena infeksi, selain itu juga pembuangan tinja manusia perlu diatur menurut syarat-syarat kesehatan sehingga tidak memungkinkan heksakan yang keluar bersama tinja-tinja itu sampai tertelan babi, sementara itu semua daging babi, sapid an ikan yang mungkin mengandung sisteserkus harus dimask sebaik-baiknya oleh manusia.


BAB III
KESIMPULAN

Filum Platyhelminthes secara keseluruhan dapat diartikan sebagai cacing pipih, filum ini jug adapt dikelompokan sebagai hewan triploblastik yang artinya tiga jaringan lapisan yang terdapat pada pktyhelminthes, yaitu ektodermis ( lapisan luar),mesodermis ( lapisan tengah) dan endodermis (lapisan dalam)
Ciri dari filum Platyhelminthes ini, yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih, tidak terdapt rongga tubuh dan alat pencernaanya masih belum sempurna, kebanyak platyhelminthes hidup sebagai parasit baik pada hewan atau manusia kecuali pada tulbaleria, disamping itu ada pula yng hidup di perairan, platyhelminthes dalam sisitem klasifikasi dinbagi menjadi tiga kelas yaitu turbellaria, trematoda dan cestoda.
















































Read More..
READ MORE - Makalah Cacing pipih

Minggu, 07 Agustus 2011

Karya Ilmiah Biologi

Posted by rafly 00.14, under | No comments

BAB I
PENDAHULUAN


A. Tujuan
Dalam penyusunan karya ilmiah ini, tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuannya adalah agar dapat:
1. Mengetahui bagian – bagian tanaman yang dapat dibentuk menjadi bonsai
2. Mengetahui tanaman bibit bonsai
3. Mengetahui tanaman bakal bonsai dan bagaimana cara menanamnya
4. Mengetahui bagaimana cara membuat tanaman bonsai
5. Untuk memenuhi tugas mandiri mata pelajaran bahasa Indonesia

B. Latar Belakang
Menurut Rismunandar, (1993L tanpa halaman) menyatakan, “tanaman kerdil yang dipelihara di dalam pot yang beraneka ragam bentuk dan warnanya itu di Jepang diberi nama bonsai.”
Dai kutipan di atas menunjukan tentang pengertian bonsai, jadi bonsai adalah tanaman kerdil yang bentuknya menyerupai tanaman di alam bebas yang di tanam di pot yang beraneka ragam bentuknya dan warnanya atau sering juga disebut tanaman hias, itu karena bentuknya yang indah dan menarik dan biasa dipajang di halaman rumah sebagai Hiasan untuk menambah keindahan rumah, sehingga orang yang melihat akan merasa tertarik.
Pertama kalinya tanaman bonsai ini dikembangkan di Tiongkok pada abad ke XI, kemudian pada abad ke XV seni tanaman bonsai masuk ke Jepang, hingga seni tanaman kerdil ini disebut bonsai. Dengan keindahan dan keunikan dari tanaman bonsai ini akhirnya tanaman bonsai ini sampai merambah ke Amerika Serikat bahkan ke dunia Barat termasuk ke Indonesia bonsai ini banyak digemari dan diminati untuk bisa memiliki tanaman itu.
Dengan demikian untuk bisa memenuhi hasrat itu, maka bonsai dalam penyusunan karya ilmiah ini. Hal ini sengaja penulis sajikan agar menambah kreatifitas bagi yang berminat tanaman hias.

C. Metode
Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis menggunakan metode deskripsi dan pendekatan yang digunakan yaitu dengan pendekatan normative, dimana penulis menjelaskan dan memaparkan bagaimana cara membentuk tanaman menjadi tanaman bonsai dengan menggunakan literature yang ada

D. Sistematika Penulisan
Di samping karya ilmiah ini harus bersifat ilmiah, juga harus tersusun secara sistematis. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:
Dalam sistematika penulisan karya ilmiah ini diawali dengan isi yang terdiri dari daftar isi, dilanjutkan dengan isi yang terdiri dari beberapa Bab yaitu Bab I, Bab II, dan Bab III, yakni rinciannya sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Isi dari Pendahuluan ini terdiri dari beberapa sub Bab yaitu; tujuan, latar belakang, metode; sistematika penulisan, dan terakhir Kegunaan
Bab II Pembahasan
Pembahasan ini menguraikan materi tentang tanaman bonsai secara teoritis dimana dalam hal ini terdiri dari beberapa sub yaitu: bagian tanaman, sifat dan fungsinya, bibit bonsai, bakal bonsai dan cara menanamnya; dan tahap-tahap pembentukan bonsai.
Bab III Penutup
Dalam Bab III ini diisi dengan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran, dimana penulis setelah menguraikan materi tentang bonsai selanjutnya menyimpulkan dan memberikan saran sehingga karya ilmiah ini bisa bermanfaat.

E. Kegunaan
Manfaat dan kegunaan penyusunan karya ilmiah ini diharapkan bisa:
1. Menumbuhkan minat seseorang untuk bisa memiliki bonsai
2. Memberikan motivasi untuk bisa berkreasi dan kreatif
3. Memberikan pengetahuan dan pengalaman bagaimana membentuk tanaman bonsai


BAB II
PEMBAHASAN

A. Bagian Tanaman, Sifat Dan Fungsinya
Bagi seorang yang baru ingin mengembangkan daya kreasinya membentuk bonsai, terlebih dahulu memerlukan bekal pengetahuan ala kadarnya tentang tumbuh-tumbuhan.
Membuat bonsai pada hakikatnya mempengaruhi bagian-bagian tanaman sedemikian rupa sehingga bisa tampil pertumbuhan yang dikehendaki pemiliknya.
Perlu diingat, bahwa tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk yang hidup, walaupun bersifat pasif, tetap akan memberikan reaksi terhadap gangguan pada tubuhnya.

1. Organ-Organ Tanaman dan Sifatnya
Hingga saat ini tanaman yang dikerdilkan pada umumnya termasuk keluarga besar “Dicotyledon” atau tanaman yang bijinya berkeping dua, maka dari itu uraian tentang bagian-bagian tanaman di bawah ini khusus ditujukan terhadap tanaman yang berkeping dua.
Bagian-bagian tanaman dapat dibagi dalam dua bagian ialah:
- Bagian vegetatif (organum nutritivum)
- bagian generatif (organum reproductivum)
Untuk landasan membuat bonsai dibatasi pada penguraian bagian vegetatif saja, Karena bagian generatif kurang perannya dalam membentuk bonsai.
a. Bagian Vegetatif
Bagian vegetatif dapat dibagi dalam 2 (dua) bagian:
1. Yang berada di atas tanah (batang pokok, dahan, ranting, daun) berada di dalam lingkungan yang penuh dengan udara dan lembap, serta sinar matahari dan suhu udara yang tidak konstan
2. Bagian yang berada di dalam tanah, perakaran yang tumbuhnya ke bawah atau ke dalam tanah dan menghindari matahari.
Bagian ini terdiri dari:
- Akar tunggang atau akar pokok yang tumbuhnya lurus ke bawah
- Akar lateral, tumbuhnya mendatar, dan keluar dari dekat leher akar

b. Sifat dan fungsi bagian vegetatif
1. Batang pokok
Dapat meningkat tingginya, Karena diperlengkapi dengan titik tumbuh pucuknya. Dan dapat memperbesar lingkaran batangnya Karena diperlengkapi dengan jaringan khusus yang disebut kambium. Letak kambium di atas kayu, dan di bawah kulit.
2. Dahan
Tumbuh dari kuntum yang berada di ketiak daun pada batang pokok yang masih muda. Tumbuhnya bisa mendatar atau membentuk sudut kurang dari 90°. Dengan adanya dahan-dahan tersebut dibentuklah mahkota pohon yang konis, pyramidal, bulat telur, lonjong dan sebagainya.

3. Ranting
Tumbuh dari kuntum yang berada di ketiak daun dahan, dapat tumbuh ke arah yang beraneka ragam, namun rata-rata tumbuh ke luar arah dahan. Pertumbuhan ranting dapat dihentikan dengan reaksi membentuk ranting-ranting baru.

4. Kuntum
Kuntum dapat berada di titik tumbuh, ketiak daun dan ada pula yang terpendam (tidak nampak) yang setiap waktu dapat tumbuh sebagai ranting atau dahan baru.

5. Akar
Akar sifatnya menghindari sinar matahari, sifat ini disebut “negatif phototropis”. Pertumbuhan akar tidak kaku, yang berarti dapat menyesuaikan diri dengan ruang lingkup di mana mereka berada, misalnya akar tunggang menjadi lateral bila tumbuhnya terhalang oleh suatu benda yang tidak bisa ditembus, akan berubah arahnya. Sebagai contoh akar tanaman di dalam pot atau keranjang akan melingkar-lingkar bilamana sudah tua umurnya.

2. Fungsi Bagian Tanaman
Organ-organ tanaman yang berada di atas tanah, tidak dapat dipisahkan dari organ-organ yang berada di dalam tanah. Dampak pertumbuhan perakaran, nampak pula pada pertumbuhan batang pokok dahan dan sebagainya.
a. Daun merupakan pabrik untuk menghasilkan zat karbohidrat, protein dan lemak. Ketiga zat ini dibentuk melalui proses fotosintesa.
Sarana dari proses tersebut adalah:
- Hijau daun yang sehat
- Sinar matahari
- Udara yang mengandung zat asam arang (CO2)
- Air
b. Fungsi akar
Fungsi akar yang utama adalah untuk menyerap zat-zat mineral yang larut di dalam air atau dari tanah. Zat-zat mineral ini pada umumnya diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
Air yang diserap bersama zat mineral, diperlukan untuk berlangsungnya fotosintesa. Tanpa air atau kekurangan air tanaman akan nampak layu, terutama yang diserang terlebih dahulu bagian-bagian yang masih relatif muda.

B. Bibit Bonsai
Bibit untuk bonsai atau bakal bonsai dapat diperoleh dari:
- Biji yang khusus disemaikan atau dari semai yang ada di alam bebas
- Setekan atau cangkokan, yang pembuatannya memerlukan sedikit keterampilan
- Okulasi
- Bongkah-bongkah tanaman yang masih bertunas dan masih nampak bertahan untuk hidup

1. Semai Bakal Bonsai
Untuk mendapatkan bibit melalui penyemaian sendiri, akan memakan waktu cukup lama. Menyemaikan biji hingga dapat di tanam dalam pot banyak liku-likunya, sehingga dapat menghabiskan semangat untuk memulai mengayunkan langkah membentuk bonsai.
Pesemaian bibit bonsai lebih baik diserahkan saja kepada perusahaan bibit (bonsai) yang sekaligus berkecimpung dalam pembikinan bonsai untuk di jual.
2. Setek, Cangkok Dan Okulasi
Menyetek, mencangkok dan membuat okulasi merupakan seni tersendiri. Menyetek dan mencangkok dapat menghasilkan tanaman baru dalam jangka waktu yang relatif singkat (1-2 bulan). Sedangkan membuat okulasi bisa membutuhkan waktu lebih dari 1 tahun.
a. Menyetek
Sebelum mempraktekan teknis menyetek tanaman, perlu disadari bahwa setiap jenis tanaman dapat dengan mudah disetek.
Dikenal 3 jenis setek, yaitu:
- Setek lunak dan setengah lunak
- Setek keras
- Setek daun
b. Cangkok
Untuk mencangkok, dipilihlah dahan minimal sebesar pensil atau ibu jari, dan kulitnya mudah dikelupas (tidak lengket).
Teknik mencangkok
- Kupas kulit dahan selebar 3-5 cm
- Buang lendirnya dengan mengerok atau melap dengan kain yang kering
- Biarkan 3-4 hari
- Kemudian tutup lukanya dengan mos yang dibasahi atau campuran antara tanah dan remah dengan kompos yang tua dengan perbandingan 1:1
- Balut mos atau tanah dengan lembaran plastik, dan ikat baik-baik di bagian atas dan bawah
- Dengan jarum lembaran plastik dilubangi agar sirkulasi udara dapat berlangsung.

c. Membikin Okulasi
Bagi yang telah biasa menanam satu jenis pohon misalnya buah-buahan dalam bentuk okulasi untuk dijadikan bonsai, tidak merupakan suatu problem yang pelit. Tapi tidak demikian halnya bagi seorang pendatang baru, yang ingin menyibukkan diri dalam seni bonsai dan harus didahului dengan membikin ekolusi sendiri.
Bibit ekolusi terdiri dari 2 (dua) bagian ialah :
- Batang bawah (onderstam)
- Batang atas (entrijs)
Langkah-langkah dalam perokulasian:
- Batang pokok bersihkan 15 cm di atas tanah
- Sayat kulit 10 cm dari atas tanah selebar 8 mm, dengan membikin keratan di bagian atas dan kanan kiri menurun ± 4 cm panjang
- Tarik kulit ke bawah, sehingga merupakan lidah, kemudian potong separuhnya
- Sayat mata dari dahan entrijs, dengan kayunya sedikit dari bawah ke atas, panjang ± 4 cm di atas mata yang merata, sehingga pas betul menempel pada keratan pohon pokok
- Angket kayu perlahan-lahan tanpa merusak matanya
- Kulit yang bermata, masukkan antara kayu dan kulit lidah batang pokok, yang telah dibuka, dan tempelkan kembali, usahakan matanya tidak tertutup
- Balut dengan tali raffia yang erat

C. Bakal Bonsai Dan Cara Menanamnya
Prinsip-prinsip menanam bonsai ini ialah:
- Pot dibikin dari tanah bakar, porselin atau plastik
- Air di dalam pot yang berlebih harus dapat mengalir keluar dengan sendirinya
- Jenis tanahnya adalah tanah yang tidak mudah padat atau plastik (liat/lengket)
- Tanah di dalam pot harus yang cerul, sehingga banyak mengandung udara bersih
- Daya serap tanahnya terhadap air baik, sehingga dapat mempertahankan kelembapannya.

1. Pot dan isinya
Pot merupakan sarana dalam kreasi bonsai yang tidak kalah penting dengan bonsai sendiri. Dengan bonsai, pot merupakan rangkaian yang harus harmonis, yang serasi dan atraktif dengan kata lain berukuran seimbang dengan bentuk bonsainya.
Pot bonsai dapat berbentuk: bulat, oval, segi lima, segi panjang dan sebagainya
Ukurannya : besar, sedang, kecil hingga kecil sekali, tinggi hingga rendah seperti talam
Warnanya : beraneka ragam
Lubang pembuangan air : Selain pot berbentuk baki, semua pot bonsai
diperlengkapi dengan satu atau lebih lubang pembuangan air, yang ditutup dengan gas plastik atau yang lain
Pada umumnya jenis tanaman tertentu membutuhkan campuran tanah yang khas bagi mereka. Resep umum medium untuk tanaman yang berdaun lebar (Beringin, getahperca, sawo, dan sebagainya) adalah:
50 % tanah liat sedang
20 % pasir dan
30 % kompos

2. Mengisi Pot
Mengisi pot untuk tanaman bonsai merupakan duplikasi dari keadaan yang sebenarnya di alam bebas. Lapisan paling atasnya atau topsil, tebalnya tidak lebih dari 35 cm bersifat cerul, penuh dengan humus, dan subur.
Lapisan kedua masih lunak, masih dapat menyalurkan air ke bawah menjadi air tanah. Lapisan ketiga bisa berbentuk lapisan tanah yang banyak batu-batuan berukuran beraneka ragam dan akhirnya lapisan paling bawah adalah lapisan induk batu yang kedap air.
Kesuburan dan tinggi rendahnya pertumbuhan tanaman tahunan tergantung pada tebal tipisnya lapisan kedua dan ketiga. Bila lapisan kedua dan ketiga bercadas, pertumbuhan akar tunggangnya terhalang. Tanah yang tidak dalam dan bercadas dalam musim kemarau banyak mengalami kekurangan air. Akibatnya ialah tanaman tahun yang tumbuh di atasnya tidak akan normal, alias pendek.

3. Pengamanan Isi Pot
Batu kerikil, pasir dan tanah bisa mengandung serangga tanah yang membahayakan tanaman bonsai, terutama cacing dan nematoda. Cacing tanah atau cacing hujan walaupun tidak akan merusak akar namun tetap saja dapat merisaukan. Selain serangga, jenis-jenis penyakit yang dapat mengakibatkan pembusukan pun bisa berada di dalam tanah maupun pasir. Biji-biji rerumputan dan sebaginya terdapat pula di pasir.

4. Cara Menanami Bonsai
Bakal bonsai dapat diperoleh melalui beberapa cara ialah:
- Membibitkan sendiri melalui penyemaian
- Membeli dari penjual bibit di pinggir jalan atau kebun bibit
- Mencari di luar halaman atau di alam bebas

5. Pemeliharaan Setelah Tanam
Setelah penanaman selesai, siram bakal bonsai dan tanahnya dengan mempergunakan spayer yang halus. Air penyiraman harus bersih dan tidak berlumpur dan nentral (tawar). Hentikan penyiraman jika air sudah berkelebihan dan mengalir ke luar melalui lubang air. Bila air nampak mengenang dan tidak mau keluar lubang air, ini merupakan pertanda bahwa lubang air tersumbat. Malapetaka kecil ini dapat diatasi dengan alat pengungkit.
Untuk menghindari permukaan tanah di dalam pot cepat mengering. Dapat ditutup dengan mos kering sebagai mulsa atau lumut hijau bilamana ada. Namun yang lebih praktis adalah dibungkus dengan lembaran plastik. Batu kerikil kecil-kecil dapat berfungsi juga sebagai mulsa.
Tempatkan kemudian bakal bonsai di tempat yang teduh, tidak banyak angin dan bebas dari gangguan anak-anak atau hewan kesayangan.
Untuk mempercepat tumbuhnya kembali (recovering) bakal bonsai dapat diusahakan dengan menutup seluruh tanaman dengan kantung plastik transparan.

D. Tahap-Tahap Pembentukan Bonsai
Membentuk tanaman kerdil alias bonsai pada hakikatnya ialah membuat duplikat dari bentuk-bentuk pohon-pohonan di alam bebas. Skala duplikasi ini bisa kecil, sedang, hingga cukup besar namun tetap di bawah ukuran yang normal.
Bentuk bonsai dapat menggambarkan sejenis pohon yang bertahan terhadap keganasan alam, misalnya angin yang keras, badai laut di pinggir pantai yang berlaut-laut. Pohon nampak porak-poranda namun tetap survive.
Bonsai dapat menampilkan bentuk mahkota pohon indah secara individual, namun dapat pula berbentuk kebun mini. Kebun mini ini dapat berbentuk rata, namun dapat pula berbentuk puncak gunung dengan beberapa tanaman kerdil. Puncak gunung dapat nampak hijau karena tertutup mos atau berbentuk batu-batu karang yang menampilkan bentuk tanah yang kritis.
1. Tahap Pertama, Membentuk Kerangka Dasar
Bakal bonsai yang sudah siap untuk diberi kerangka dasar adalah yang sudah benar-benar sehat kembali, setelah mengalami pemindahan. Batang Pokoknya praktis sudah tidak tergoyahkan lagi dan sudah cukup mencapai ketinggian yang diperlukan pada akhirnya untuk dibentuk.
Kerangka dasar sementara sudah dimulai pada waktu memindahkan tanaman ke dalam pot bonsai. Sebelum membentuk kerangka dasar, rencanakan terlebih dahulu masak-masak bentuk bonsai yang dikhayalkan, dan bagaimana kira-kira bentuk bonsai pada akhirnya nanti.
Kerangka dasar ini terdiri dari rangkaian batang pokok dan beberapa dahan
Dahan-dahan yang dianggap berlebihan dipangkas dengan gunting pemangkas sedemikian rupa, sehingga habis pangkalnya. Tepatnya, luka bekas dahan nampak rata dengan permukaan kulit batang pokok.
Batang Pokok
Batang pokok dapat diatur sikapnya menjadi:
- Tegak lurus dengan dahan membentuk mahkota yang sistematis atau asimatris
- Berliku-liku namun menjulang ke atas
- Miring hingga menggelantung
- Berbatang pokok lebih dari satu yang tumbuh dekat leher akar atau lebih tinggi dan sebagainya.

2. Tahap Kedua Merubah Arah Dan Bentuk
Merubah bentuk dan arah tumbuhnya batang pokok dan dahan-dahan merupakan suatu paksaan dan memakan waktu hingga bentuk dan arah yang dikehendaki tercapai.
Untuk keperluan tersebut diperlukan sarana untuk memudahkan pelaksanaannya sebagai berikut:
- Kawat kuningan dari beberapa ukuran diameternya
- Tali raffia
- Tang untuk memotong kawat
- Gunting pemangkas
- Gunting biasa
- Pisau kecil yang tajam
- Tang yang runcing ujungnya
- Cellotape

E. Penyempurnaan Bentuk Bonsai
Tidak semua jenis tanaman dapat dikerdilkan. Misalnya tanaman advokat yang berdaun lebar dan panjang tidak. Mungkin memenuhi persyaratan agar daunnya bisa mengecil. Tanaman yang dapat memenuhi persyaratan untuk dikerdilkan adalah tanaman yang mempunyai daun berukuran kecil, misalnya Beringin, jeruk kingki (Triphasi aurantium), jenis-jenis coniper (cemara, pinus dll), delima (punika granatum), lo (ficus glomerata) dan sebagainya. Di samping berukuran kecil hendaknya mempunyai sifat mudah rontok.
Penyempurnaan bonsai kini letaknya untuk menyusun ranting-ranting dengan daunnya yang cukup lebat, namun seimbang dengan bentuk dan ukuran bonsai keseluruhannya.
Batang pokok dan dahan harus nampak tumbuh kuat, dan menghasilkan ranting-ranting dan daun yang sehat. Walaupun bagaikan suburnya pertumbuhan daun namun dalam peryempurnaan bentuk bonsai, batang pokok dan dahan harus nampak jelas tidak tertutup. kedua-duanya merupakan kerangka dasar, dan sebagai dasar yang harus tetap menonjol.
Langkah-langkah penyempurnaan ini dalam hakikatnya sangat mengasyikan pemiliknya. Setiap waktu yang senggang sering dimanfaatkan untuk meneliti pohon kerdil kesayangannya. Langkah-langkah penyempurnaan ini terdiri dari.
- Pemangkasan
- Pengetipan/pengurangan kuntum ranting maupun dahan
- Jika perlu menambah lakukan dan sebaginya.

1. Pengendalian pertumbuhan
Setiap orang mengetahui, bahwa tanaman khususnya yang berbentuk pohon, bila dibiarkan sekehendak hatinya, akan berbentuk pohon, bila dibiarkan sekehendak hatinya, akan meningkat tingginya dan akan melebar mahkotanya.
Setiap bagian yang dilengkungkan, sebagai reaksinya ialah mengeluarkan kuntum baru yang dapat menjadikan dahan maupun ranting mengakibatkan kuntum di bawah titik tumbuh yang semula pasif (tidur) akan aktif dan tumbuh.
Pengendalian pertumbuhan tersebut dilaksanakan melalui pemangkasan dan pengetipan / Pemetikan titik tumbuh
Dengan pemangkasan dibuangnya:
- Cabang/ dahan yang tumbuhnya di luar rencana akibat dari lengkungan atau yang tumbuh dari kuntum adventif
- Ranting-ranting yang tumbuhnya saling tindih yang tampil kurang sedap
- Ranting-ranting yang tumbuh ke arah bawah atau ke arah batang pokok
- Ranting-ranting yang lemah pertumbuhannya

2. Cara dan Waktu Pemangkasan
Memotong dahan atau ranting, dilakukan sebagai berikut:
- Potong sedekat mungkin dengan kuntum yang nampak sehat
- Bila ingin membentuk ranting baru, potong sedekat mungkin dengan ranting yang tumbuhnya sehat
- Bila memangkas cabang, Potonglah sedemikian rupa hingga lukanya rata dengan permukaan pangkal tumbuhnya. Tutup lukanya yang besar dengan paraffin.

3. Melilit Dahan Dengan Kawat
Melilit dahan-dahan yang memanjang karena pertumbuhannya masih dapat dilaksanakan. Tindakan ini dilakukan selama pertumbuhan baru, masih memungkinkan tanpa mengganggu bentuk dan penampilan bonsai selanjutnya
Langkah-langkah dalam penyempurnaan bonsai nampaknya sederhana. Tapi hasil yang cukup mengesankan baru dapat dicapai setelah beberapa tahun, ada yang tiga ada yang lima tahun lebih.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah penulis mengadakan pengkajian secara normative pada Bab II, maka penulis menyimpulkan, yaitu:
1. Bonsai adalah tanaman kerdil yang dipelihara di dalam pot yang beraneka ragam bentuknya dan warnanya.
2. Bagian-bagian tanaman yang dapat dibentuk menjadi bonsai adalah, batang pokok, dahan ranting dan akar.
3. Bibit atau benih yang dapat dijadikan bakal bonsai dapat dihasilkan melalui penyemaian biji, setekan, cangkokan, okulasi dan langkah-langkah tanaman yang masih bertunas.
4. Adapun prinsip atau cara menanam bonsai adalah:
Pot dibuat dari tanah bakaran, porslen atau plastik.
Air di dalam pot harus dapat mengalir jika berlebih.
Jenis tanahnya harus yang tidak mudah padat.
Tanah di dalam pot harus cerul, sehingga banyak mengandung udara bersih.
Daya serap tanah terhadap air baik.
5. Membentuk tanaman bonsai ialah membuat duplikat dari bentuk pohon-pohonan di alam bebas. Skala duplikat ini bisa kecil, sedang, hingga cukup besar namun tetap dibawah ukuran.

B. Saran
Agar dalam penyusunan karya ilmiah ini bisa memberikan manfaat yang besar maka penulis menyarankan:
1. Belajar mengkerdilkan pohon tidak akan selancar yang diharapkan, kegagalan pasti akan dialaminya. Dengan demikian hendaknya bagi para pemula untuk memiliki kesabaran yang tinggi Jadikanlah kegagalan sebagai ujian untuk mengulang lagi lebih baik lagi.
2. Bagi yang memiliki tanaman bonsai, hendaknya memeliharanya dengan baik, karena membentuk tanaman kerdil dan memeliharanya hingga beberapa ratus tahun lamanya, merupakan suatu kesenian tersedirinya.



Read More..
READ MORE - Karya Ilmiah Biologi