Selamat datang di blog Yudi Friansyah, Semoga blog ini dapat bermanfaat untuk rekan semua

Rabu, 24 Agustus 2011

JARINGAN PADA TUMBUHAN

Posted by rafly 01.16, under | No comments

Tidak hanya pada manusia saja tumbuhanpun memiliki jaringan-jaringan, diataranya:

A. Jaringan Meristem

Meristem/jaringan muda adalah sekelompok sel tumbuhan yang aktif membelah. Ciri-cirinya : (1)Ukuran sel kecil, (2)Dinding tipis, (3)Selnya kuboid/prismatis, (4)Nukleus relatif besar, (5)Vakuola kecil dan kaya sitoplasma.

Dalam tiap pembelahan, sel anakan (pemula) tetap berupa meristem, sedangkan sel anakan yang lain mengalami modifikasi.

1. Berdasarkan asal pembentukan

a. Promeristem, jaringan meristem yang ada sejak tingkat embrio,

b. Meristem primer, jaringan meristem pada tumbuhan dewasa dan masih membelah diri. Terdapat pada ujung akar dan batang dan akar.

c. Meristem sekunder, jaringan meristem yang berasal dari jaringan meristem primer. Contohnya adalah kambium (lapisan sel-sel yang aktif membelah dan terdapat di antara xilem dan floem. Kambium menyebabkan pertumbuhan sekunder (batang membesar). Pada masa pertumbuhan, kambium yang tumbuh ke dalam lebih aktif daripada ke dalam.

2. Berdasarkan letak

a. Meristem apikal

Selalu terdapat pada ujung akar dan batang tumbuhan. Pada pemanjangan meristem apical, akan dihasilkan tunas apical (yang akan berkembang menjadi cabang samping, daun, bunga). Pertumbuhan apikal disebut primer. Hasilnya adalah jaringan primer.

b. Meristem interkalar

Terletak di antara jaringan meristem primer dewasa. Juga sebenarnya merupakan bagian meristem apical yang tertinggal. Pertumbuhannya memunculkan bunga. Contohnya adalah: batang rumput (gramineae).

c. Meristem lateral

Menghasilkan pertumbuhan sekunder (pembesaran batang). Ada dua jenis kambium:

i. Vaskuler: Proses penebalan selama pertumbuhan sekunder.

ii. Gabus/Felogen: menghasilkan lapisan pelindung akibat aktivitas kambium vaskuler.

B. Jaringan permanen

Merupakan jaringan yang bersifat non-meristematik. Terbentuk dari diferensiasi sel meristem. Juga merupakan jaringan terspesialisasi untuk mendukung fungsi tertentu.

1. Jaringan epidermis

Merupakan jaringan yang terletak paling luar pada setiap organ tumbuhan (akar, batang, daun). Fungsinya sebagai pelindung organ tumbuhan bagian dalam. Fungsi khususnya pelindung dari :n (1) Kehilangan air, (2) Kerusakan mekanik, (3) Perubahan suhu, (4) Hilangnya zat makanan.

Cirinya antara lain : (1) Sel hidup, (2) Persegi panjang, (3) Susunan sel rapat, (4) Tidak memiliki klorofil, (5) Derivat jaringan epidermis.

a. Stomata (mulut daun)

Merupakan celah pada jaringan epidermis yang dibatasi oleh dua sel penjaga, sel penjaga berisi kloroplas. Stomata berfungsi sebagai:

i. Jalan masuk CO2 dan jalan keluar O2,

ii. Jalan penguapan (transpirasi),

iii. Jalan pernafasan (respirasi).

b. Trikomata (rambut-rambut)

Merupakan modifikasi epidermis berupa rambut-rambut. Hampir terdapat pada seluruh permukaan organ.

i. Trikomata dibagi menjadi dua:

Þ Non-gladuler : sel tidak mengeluarkan zat sekretoris,

Þ Gladuler : rambut pelindung mengeluarkan zat sekretoris.

ii. Trikomata berfungsi antara lain :

Þ Mengurangi penguapan,

Þ Mengurangi gangguan manusia dan binatang,

Þ Membantu penyebaran biji,

Þ Membantu perkecambahan biji,

Þ Membantu penyerbukan bunga,

Þ Alat untuk ‘memanjat’,

Þ Meneruskan rangsangan.

c. Spina (duri)

Merupakan alat tambahan di bagian batang di epidermis. Spina terdiri dari :

i. Spina palsu : alat tambahan di bagian batang epidermis,

ii. Spina asli : dibentuk oleh jaringan dari dalam stele batang (silinder pusat).

d. Velamen

Merupakan lapisan sel mati di bagian dalam epidermis bagian atas daun. Berfungsi sebagai alat penyimpan air.

e. Sel kipas/motor cell/bulliform cell

Merupakan alat tambahan epidermis bagian atas daun, terutama pada Gramineae. Bambu dan Cyperaceae: rumput teki. Sel kipas berfungsi sebagai penyimpan air. Jika penguapan terlalu besar, daun akan menggulung.

2. Jaringan Parenkim

Merupakan jaringan dasar yang ada hamper di semua bagian.

a. Disebut jaringan dasar karena:

i. Menyusun sebagian besar jaringan,

ii. Terdapat di jaringan lain (xilem dan floem),

iii. Selubung berkas pengangkut

b. Ciri-cirinya:

i. Sel hidup berukuran besar dan tipis,

ii. Bentuk segienam,

iii. Banyak vakuola,

iv. Inti mendekati dasar sel,

v. Mampu bersifat merismatis,

vi. Tidak rapat.

c. Menurut fungsinya:

i. Parenkim asimilasi : tempat pembuatan zat makanan. Misalnya tumbuhan hijau.

ii. Parenkim penimbun : menyimpan cadangan makanan karena vakuola besar. Misalnya umbi, rimpang, biji berupa pati, minyak alkaloid,

iii. Parenkim air : mampu menyimpan air. Misalnya kaktus xerofit,

iv. Parenkim pengangkut: terdapat sekitar xylem dan floem,

v. Parenkim penyimpan udara : dapat menyimpan udara karena ruang antar sel besar.

vi. Parenkim penutup luka : memiliki kemampuan regenerasi dengan menjadi meristematik.

3. Jaringan Penyokong

Berperan menunjang bentuk tumbuhan agar dapat berdiri dengan kokoh. Fungsinya antara lain:

a. Jaringan kolenkim

Merupakan jaringan hidup yang punya banyak sifat jaringan parenkim, secara struktural dapat dianggap parenkim penunjang organ muda.

b. Jaringan sklerenkim

Merupakan jaringan penunjang yang terdapat pada organ tumbuhan yang telah dewasa. Dinding sel tebal dan ber-lignin (zat kayu), protoplasma mati setelah dewasa. Terdiri dari:

i. Serabut sklerenkim : sel-sel panjang dan sempit yang berujung runcing.

Þ Serabut xiler adalah sklerenkim pada jaringan xylem.

Þ Serabut extraxiler adalah sklerenkim di luar serabut xylem.

ii. Sklereid : sel-sel yang telah mati, bulat, berdinding keras yang tahan tekanan. Dapat dijumpai tunggal/berkelompok. Misalnya : daging buah jambu biji dan pir.

4. Jaringan pengangkut/vaskuler

Merupakan jaringan yang mengangkut air & zat hara serta hasil fotosintesis. Terdiri dari :

a. Xilem (mengangkut air dan unsure hara ke daun). Terdiri dari :

i. Parenkim xylem (sudah dijelaskan),

ii. Serabut xiler (sudah dijelaskan),

iii. Trakeid adalah sel-sel tumbuhan yang dindingnya mengalami lignifikasi dan akan mati setelah dewasa. Bentuknya lancip dan panjang. Dinding selnya berlubang (pit). Trakeid memiliki 2 fungsi : penopang dan pengangkut air,

iv. Komponen pembuluh adalah sel-sel silinder yang mati setelah dewasa yang ujungnya sambung-menyambung untuk membentuk tabung pengangkut air bersel banyak.

b. Floem (mengangkut zat makanan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan). Terdiri dari :

i. Parenkim floem (menyimpan cadangan makanan),

ii. Serabut Floem (memperkuat jaringan pembuluh),

iii. Komponen pembuluh tapis merupakan sel-sel memanjang yang ujungnya saling bersatu membentuk pembuluh. Terdiri dari sel-sel hidup,

iv. Sel pengiring merupakan sel yang lebih kecil disbanding komponen pembuluh tapis. Berperan member makan komponen pembuluh tapis. Hanya terdapat pada Angiospermae,

c. Sedangkan tipe pembuluh angkut antara lain

i. Ikatan kolateral merupakan tipe pembuluh angkut xylem dan floem yang bersebelahan. Susunannya xilem di dalam, floem di luar. Terbagi menjadi dua,

Þ Kolateral terbuka : di antara xilem & floem terdapat kambium,

Þ Kolateral tertutup : di antara xilem & floem tidak terdapat kambium.

ii. Ikatan radial merupakan ikatan xilem & floem membentuk cincin silindris. Antara lain :

Þ Amfikribal : xilem berada di tengah,

Þ Amfivasal : floem berada di tengah.

5. Jaringan gabus

Merupakan jaringan yang tersusun dari sel-sel parenkim kubus. Di bagi menjadi:

a. Felem : dibentuk ke arah luar. Bentuknya kotak,

b. Felogen : kambium gabus,

c. Feloderm : dibentuk ke arah dalam.
Read More..
READ MORE - JARINGAN PADA TUMBUHAN

Jumat, 12 Agustus 2011

Cara Menghilangkan memori

Posted by rafly 06.04, under | No comments

Peneliti yang bekerja dengan tikus telah menemukan bahwa ketika suatu protein dihapus dari wilayah otak yang bertanggung jawab untuk mengingat rasa takut, mereka secara permanen dapat menghapus kenangan traumatik. Laporan mereka tentang penghapusan memori rasa takut pada hewan pengerat tersebut, muncul minggu ini di Science Express.

“Ketika peristiwa traumatis terjadi, itu menciptakan memori ketakutan yang dapat bertahan seumur hidup dan berefek melemahkan pada kehidupan seseorang,” ujar Richard L. Huganir, Ph.D., profesor dan direktur ilmu saraf di Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins dan Peneliti Institut Howard Hughes Medical. “Temuan kami menggambarkan mekanisme molekuler dan seluler. Temuan ini memungkinkan dalam memanipulasi mekanisme tersebut dengan obat-obatan, sehingga dapat meningkatkan terapi perilaku terhadap kondisi seperti gangguan stress pasca-trauma.”

Terapi perilaku yang dibangun di seputar “pelatihan pemunahan” pada model hewan telah terbukti membantu meringankan kedalaman tanggapan emosional pada kenangan traumatis, tapi tidak sepenuhnya menghapus memori itu sendiri.

Huganir bersama sesama pasca-doktoral, Roger Clem, berfokus pada sirkuit saraf di amigdala, bagian otak yang dikenal mendasari kondisi rasa takut pada manusia maupun hewan. Dengan menggunakan suara yang mengisyaratkan ketakutan pada tikus, mereka mengamati bahwa sel-sel tertentu di dalam amigdala bereaksi lebih aktif setelah tikus dikejutkan dengan nada keras yang tiba-tiba.

Dengan harapan dapat memahami dasar-dasar pembentukan molekul dari memori rasa takut, tim peneliti memeriksa lebih lanjut protein dalam sel-sel saraf amigdala sebelum dan sesudah membunyikan nada keras. Mereka menemukan peningkatan sementara sejumlah protein tertentu – AMPAR penyerap-kalsium – dalam beberapa jam. Kondisi ketakutan tersebut memuncak selama 24 jam, dan 48 jam kemudian menghilang.

Karena protein khusus ini secara unik tidak stabil dan bisa dihilangkan dari sel-sel saraf, para ilmuwan mengusulkan bahwa mereka mungkin bisa secara permanen menghilangkan rasa takut dengan cara menggabungkan terapi perilaku dan menyingkirkan protein tersebut. “Idenya adalah menghilangkan protein itu dan melemahkan sambungan di otak yang diciptakan oleh trauma, sehingga menghapus memori itu sendiri,” kata Huganir.

Dalam penelitian lebih lanjut, mereka menemukan bahwa penghilangan protein ini tergantung pada modifikasi kimia protein GluA1. Tikus yang kekurangan modifikasi kimia GluA1 ini tidak lagi mengingat rasa takut terhadap nada keras, sedangkan pasangannya yang masih memiliki protein GluA1 normal, tetap terpengaruh oleh memori rasa takut yang sama. Huganir menunjukkan bahwa obat yang dirancang untuk mengontrol dan meningkatkan penghapusan AMPAR penyerap-kalsium dapat digunakan untuk meningkatkan penghapusan memori.

“Hal ini mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, kemampuan selektif menghapus memori,” kata Huganir. “Tapi suatu hari nanti mungkin ini bisa diaplikasikan pada pengobatan untuk melemahkan kenangan rasa takut dalam diri manusia, seperti sindrom stress pasca-trauma yang berhubungan dengan perang, pemerkosaan atau peristiwa traumatis lainnya.”
Read More..
READ MORE - Cara Menghilangkan memori

Makalah Cacing pipih

Posted by rafly 05.55, under | No comments

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Istilah cacing sering digunakan untuk pengertian hewan kecil bertubuh memeanjang dan tidak mampnyai kaki, memang, dulupun para ahli hewan menganggap bahwa semua cacing memiliki persamaan-persamaan yang khas sehingga mereka menggolongkanya kedalam satu filum vermes.
Vermes (kata vermes berasala dari bahasa latin yang artinya cacing), ujung posterior (ujung belakan, ekor), permukaan dorsal (perut) permukaan ventral (permukaan bawah perut), sedangkan tubuhnya dibagi menjadi bagian kanan dan bagian kiri yang sama, dengan kata lain tubuh cacing itu simetrs bilateral.
Sekarang para ahli sepakat bahwa cacing- cacing tidak dapat digolongkan dalam satu filum karna ada ada tiga filum yaitu; Plathyhelmites, Nermathelminthes dan Annelida
Dalam penulisan makalah ini, penyusun hanya mengambila satu filum yang akan diuraikan diuraikan dalam pembuatan maklah ini yang berjudul PLATYHELMINTHES, karena kebanyakan Platyhelminthes hidup sebagai parasit, umumnya dapat merugikan manusia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud Platyhelminthes?
2. Apa ciri-ciri Filum Platyhelminthes?
3. Apa klasifikasi dari filum Plathelminthes?
4. Bagaimana peranan Platyhelminthes bagi kehidupan manusia?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Platyhelminthes
2. Untuk Mengetahui Pengertian filum Platyhelminthes
3. Untuk Mengetahui Pengertian klasifikasi dari filum Plathelminthes
4. Untuk Mengetahui Pengertian peranan Platyhelminthes bagi kehidupan manusia


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Platyhelminthes
Platyhelminthes besal dari bahasa yunani yaitu platy yang berarti pipih dan helminth yang berarti cacing, dengan demikian platyhelminthes secara keseluruhan dapat dapat diartikan sebagai cacing pipih.
Hewan-hewan yang termasuk kedalam filum ini sudah memiliki alat-alat yang sederhana, seperti faring yang bersifat muscular, alat-alat pengeluaran (oragan ekskretorius) alat-alat kelamin (organ genetalis) dan lain-lain, namun demikian paltyhelminthes memiliki sistem gastrovasikuler seperti yang terdapat pada coelontereta dengan hanya memiliki satu muara, yaitu mulut yang sekaligus sebagai Anus.
Tubuh platyhelminthes terdiri dari tiga lapisan jaringan, oleh karena itu hewan-hewan yang terdapat dalam filum ini juga di kelompokan sebagai hewan triploblastik, ketiga jaringan yang terdapat pada pltyhelminthes yaitu ektodermis (lapisan luar), mesodermis (lapisan tengah) dan endodermis (lapisan dalam).
Pada cacing pipih (platyhelminthes) mulai terlihat sefalisasi (cephalisasi) yaitu adanya pemusatan sel-sel saraf dibangun di depan (anterior) tubuhnya, planaria merupakan contoh yang sangat baik karena sel-sel sarafnya terkonsentrasi menjadi sebuah ganglion kepala atau otak primitive. Dari ganglion kepala terdapat dua talisaraf yang memanjang kebelakang tubuhnya membentuk seperti tangga, karena itu disebut saraf tangga tali.
B. Ciri-ciri Platyhelminthes
Hewan-hewan yang termasuk ke dalam filum platyhelminthes memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut:
• Tubuhnya berbentuk pipih dengan beberapa bentuk seperti pita, keadaan tubuhnya lunak dan tidak memiliki segmen-segmen (berbuku-buku)
• Tidak memiliki sistem peredaran darah
• Sistem ekresinya dibangun oleh sel-sel berbulu getar yang disebut sel api (selenosit) dengan saluran-saluranekresinya.
• Memiliki kulit luar yang lunak, bersilia atau tertutup oleh lapisan kutikula yang dilengkapi dengan alat penghisap.
• Sisitem saraf terdiri atas ganglion otak dengan saraf-saraf tepi
• Reproduksinya berlangsung secara generatif, testis damn ovarium terdapat bersama-sama dalam satu individu.
• Umumnya ditemukan sebagai parasit yang hidup bebas, turbellaria yang hidup sebagai tidak berparasit.
C. Klasifikasi Platyhelminthes
Platyhelminthes dalam sistem klasifikasi dibagi atas tiga kelas, yaitu turbellaria (cacing berambut getar) trematoda ( cacing hisap) dan cestoda ( cacing pita).
1. Turbellaria ( cacing berambut getar)
Hewan dari kelas Turbellaria memiliki tubuh bentuk tongkat atau bentuk rabdit (Yunani: rabdit = tongkat). Hewan ini biasanya hidup di air tawar yang jernih, air laut atau tempat lembab dan jarang sebagai parasit. Tubuh memiliki dua mata dan tanpa alat hisap, Hewan ini mempunyai kemampuan yang besar untuk beregenerasi dengan cara memotong tubuhnya
Hewan yang termasuk kedalam kelas ini meiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pada saat dewasa memiliki rambut getar (bersilia)
b. Sistem reproduksinya hermafrodit.
c. Tubuhnya memiliki daya regenerasi yang baik, yaitu memiliki kemampuan memperbaiki tubuh yang rusak.
d. Memiliki bintik mata yang hanya bias membedakan yang gelap dan yang terang.
e. Hidup bebas diair tawar, atau laut, terkadang ditemukan dalam tanah yang basah.
Contoh spesies tulbelaria yaitu palnaria (Dugesia tigrina) yang dapat ditemukan dikolam atau disungai, biasanya melekat pada batu atau daun-daun yang terendam air.
Panjang tubuh planaria kira-kira 2 cm, mempunyai parenkim yang di dalamnya terdapat saluran pencernaan, alat-alat reproduksi, sistem ekresi dan ssstem saraf, pada parenkim itu terdapat pula lapisan-lapisan otot yang berguna untuk mengadakan gerak. Selain dengan otot, gerak adapat pula dilakukan dengan silia yang terdapat permukaan tubuhnya.
Saluran pencernaan hanya memiliki satu muara keluar mulutnya yang terdapat agak kebelakang dari pertengahan tubuh, saluran pencernaan memiliki satu cabang yang menuju kearah anterior (depan) dan dua cabang kearah posterior (belakang) masing-masing cabang bercabang-cabang lagi sehingga dapat mengisi sebagian besar tubuh hewan,
Sistem ekresi terdiri sel-sel api yang tersebar didalam parenkim, sel-sel api ini akan berhubungan dengan saluran-saluran yang akhirnya akan bermuara keluar tubuh melalui sederetan pori, masing-masing sel api berongga, mempunyai sekelompok rambut-rambut getar oleh sebab itu cacing tullbelaria juga disebut cacing berambut getar, gerakan Rambut getar ini mendoriong cairan masuk kedalam saluran ekresi itu,
Sistem saraf terdiri dari sel-sel dan serabut sarafnya membentuk semacam jala tali saraf-saraf ini di bagian anterior mempunyai lagi dan membentuk ganglion otak dan dan dianggap sebagai otaknya
Palnaria bersifat hemaprodit, pada planaria terdapat beberapa alat-alat tambahan selain berkembang biak secara generatif, hewan ini mempunyai daya regenerasi yang amat besar, jika tubuh seekor planaria di potong menjadi dua, masing-masing akan berkembang menjadi hewan lagi, potongan yang tidak mempunyai ekor akan membentuk ekor, sedangkan yang tidak berkepala akan membentuk kepala.
2. Kelas Trematoda (cacing hisap)
Trematoda merupakan Hewan yang memiliki tubuh yang diliputi kutikula dan tak bersilia. Pada ujung anterior terdapat mulut dengan alat penghisap yang dilengkapi kait. Tubuh dengan panjang lebih kurang 2,5 cm dan lebar 1cm serta simetrisbilateral.
Trematoda termasuk hewan hemafrodit, dan sebagai parasit pada Vertebrata baik berupa ektoparasit (pada ikan) maupun sebagai endoparasit. Contoh hewan Trematoda adalah cacing hati atau Fasciola hepatica (parasit pada hati domba), Fasciola gigantica (parasit pada hati sapi) dan cacing hati parasit pada manusia (Chlonorchis sinensis) serta Schistosoma japonicum (cacing darah). Dan hidup sebagai parasit yang mempunyai daur hidup yang rumit, permukaan tubuhnya tidak tertutup oleh silia, pada umumnya trematoda mempunyai alat penghisap atau lebih sering disebut cacing isap, hewan yang termasuk kedalam trematoda memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. memiliki bentuk tubuh seperti daun dan tidak bersilia
2. memiliki alat hisap satu atau dua buah
3. hidup sebagai parasit dan memiliki satu atau dua inang perantara (hospes)
4. pada umumnya terdapat hermaprodit, tetapi bebearapa juga bersifat gonokharis.
Contoh trematoda yang paling dikenal adalah fasciola hepatica atau cacing hati, panjang tubuhnya antara 2 sampai dengan 5 cm, sedangkan lebarnya sekitat 1 cm, hidupnya terdapat di dalam hati ternak, beberapa sifatnya mirip-mirip dengan sifat planaria, misalnya menyangkut simetri bilateral, sel-sel api dan sistem saraf, mempunyai dua buah alat penghisap, yang satu mengelilingi mulut dan yang satu lagi pada permukaan ventral, tidak terlalu jauh dibelakang mulut
Saluran pencernaan di mulai dari mulut yang terdapat pada ujung depan dan dikelilingi oleh alat-alat penghisap dimulut, dalam tubuh saluran hewan ini menjadi pembuluh yang kemudian dillanjutkan dengan usus yang terdiri dari dua cabang, masing-masing cabang-cabang dapat bercabang-cabang yang lebih banyak.
Reproduksi pada fasciola hepatica sangat istiumewa, daur hidupnya menempuh jalan yang berliku-liku, fasciola hepatica ini bersifat hermafrodit dan hidup sebagai parasit dalam hati hewan.
Dari setiap individu fasciola hepatica dapat di hasilkan ratusan ribu telur, telur ini melalui saluran empedu hewan yang inangya masuk kedalam usus, kemudian bersama-sama dengan tinja keluar ke dalam bebas, telur ferfil yang dapat mencapai tempat basah menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium
Mirasidium dapat masuk kedalm tubuh keong, karena akan mati jika tidak masuk kedalam tubuhnya, biasanya mirasidium bias hidup dalam bebas kurang lebih delapan jam, bila m,irasidium dapat masuk kedalam tubuh keong, dalam waktu kira-kira dua minggu maka larva itu akan berubah menjadi agak bulat, dsebut sporosista.
Sporosista akhirnya pecah dengan menghasilkan beberapa larva kedua yang masing-masing disebut redia, redia masuk kedalam tubuh keong dan menghasilkan “anak” yang berupa redia pula untuk satu generasi atau lebih, dan akhirnya dihasilkan larva ketiga yang disebut sekaria, sekaria mempunyai ekor dan berbentuk seperti berudu, lalu meninggalkan tubuh keong, lalu tidak lama berenang dengan ekornya dan kemudian berubah menjadi sista, sista ini dapat bertahan lama, jika sista termakan oleh ternak maka kulit sista itu akan larut dan munclah cacing hati yang akan menuju kehati, kemudian menjadi dewasa disana,
3. Cestoda (cacing pita)
Cestoda ini dapat mempunyai tubuh yang amat panjang, bahkan lebih panjang daripada usus hewan vertebrata yang ditempatinya, karena bentuknya pipih seperti pita maka cacing ini dikenal dengan cacing pita,tubuhnya terdiri dari segmen-segmen yang masing-masinmg disebut proglottid , kepala disebut skolek dan memiliki alat isap (sucker)yang memiliki kait (restulum) yang terbuat dari kitin, pembuatan segmen (segmentasi) pada cacing pita disebut strobilasi. Sebagai contoh :
 Taenia solium (cacing pita pada manusia)
Menyebabkan taeniasis pada skoleknya terdapat kait-kait proglotid yang matang menjadi alat reproduksinya menjadi hospes perantara pada babi.
Siklus hidupnya:
Proglottid yang sudah matang ( terdapat pada feses) bila tertelan oleh babi menjadi embrio heksakan, menembus usus dan melepaskan kait-kaitnya selanjutnya menjadi larva sistiterkus ( dalam otot lurik babi) dan tertelan oleh manusia dan menjadi cacing dewasa.


 Taenia saginata (cacing pita pada manusia)
Menyebabkan taenia saginata, pada skoleknya tidak terdapat kait-kait dan memiliki hospes perantara pada sapid an dur hidupnya sama seperti taenia solium.
 Diphillobothrium latum
Menyebabkan penyakit Diphyllobothriasis, parasit pada manusiadengan hospes perantara berupa katak sawah. (Rana cancrivora),ikan dan Cyclops.
 Echinococcus granlocus
Merupakan cacing pita pada anjing
 Himenolepis nana
Cacing pita yang hidup dalam usus manusia dan tikus, dan tidak memiki hospes perantara.


Hewan-hewan yang termasuk cestoda (cacing pita) memiliki ciri-ciri antara lain:
a. Tubuhnya panjang seperti pita
b. Terdiri atas rangkaian segmen yang disebut proglittid
c. Memiliki alat penghisap yang berotot dan dilengkapi dengan kait-kait yang terbuat dari kritin yang disebut restelum.
d. Tubuhnya tidak memiliki mulut dan saluran pencernaan.
e. Makanan diserap melalui seluruh tubuhnya
f. Alat reproduksinya terdapt pada proglotid yang matang serta bersifat hermafrodit.
g. Umumnya bersifat parasit.
Contoh Cestoda yang akan diuraikan dalam makalah ini yaitu: taenia solium. Cacing ini hidup sebagai parasit pada manusia dengan inang perantara babi, panjang tubuhnya dapat lebih dari 3 meter, pada skoleks terdapat pada empat alat penghisap berotot dan kait-kait kritin yang tersusun dalam lingkaran, proglotid-proglotid baru ini bentuk dari daerah tepat di belakang skoleks dan mendesak segmen-segmen yang terbentuk lebih dulu semakin jauh kebelakang, sementara tumbuh, prolotid-prolotid memperkembangkan alat-alat reproduksi hermafrodit yang semakin kompleks.
Proglotid merupakan selubung yang melinungi embrio, melepaskan dirti dari usus inangnya untuk keluar ke alam bebas, proglotid yang masak jika tertelan oleh babi akan hancur di dalam perut inang, selubung telurnya larut, dan bebaslah embrio yang disebut heksakan, heksakan akan menembus dinding usus kemudian beristirahat di dalam otot atau jaringan lain dari babi, di sana tubuhnya bertambah besar, melepaskan kait-kaitnya dan mengalami perubahan bentuk menjadi sistireskus, sisiterkus ini dapat tertelan oleh manusia.

D. Peranan paltyhelminthes bagi kehidupan manusia
Karena kebanyakan platyhelminthes hidup sebagai parasit, pada umunya filum ini akan merugikan manusia, selain manusia, ada pula cacing pita inag domba dan anjing, dulu amat banyak orang-orang cina, jepang dan korea yang menderita karena penyakit parasit, clonorchis, disamping belum berkembang ilmu kesehatan, maka mereka juga suka makan ikan mentah atau setengah matang.
Usaha-usaha untuk mencegah infeksi cacing pita pada manusia dan pada inag lain biasanya dengan memutuskan daur cacing pita, baik dengan cara mencegah jangan sampai inang perantara terkena infeksi maupun dengan jalan mencegah jangan sampai inag sendiri terkjena infeksi, selain itu juga pembuangan tinja manusia perlu diatur menurut syarat-syarat kesehatan sehingga tidak memungkinkan heksakan yang keluar bersama tinja-tinja itu sampai tertelan babi, sementara itu semua daging babi, sapid an ikan yang mungkin mengandung sisteserkus harus dimask sebaik-baiknya oleh manusia.


BAB III
KESIMPULAN

Filum Platyhelminthes secara keseluruhan dapat diartikan sebagai cacing pipih, filum ini jug adapt dikelompokan sebagai hewan triploblastik yang artinya tiga jaringan lapisan yang terdapat pada pktyhelminthes, yaitu ektodermis ( lapisan luar),mesodermis ( lapisan tengah) dan endodermis (lapisan dalam)
Ciri dari filum Platyhelminthes ini, yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih, tidak terdapt rongga tubuh dan alat pencernaanya masih belum sempurna, kebanyak platyhelminthes hidup sebagai parasit baik pada hewan atau manusia kecuali pada tulbaleria, disamping itu ada pula yng hidup di perairan, platyhelminthes dalam sisitem klasifikasi dinbagi menjadi tiga kelas yaitu turbellaria, trematoda dan cestoda.
















































Read More..
READ MORE - Makalah Cacing pipih