PENGARUH PENGGUNAAN METODE PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA PADA SUB MATERI PERANAN BAKTERI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan petunjuk utama dalam kehidupan umat manusia. Melalui pendidikan, transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berlangsung secara berkesinambungan dari generasi ke generasi menuju peningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik itu pengetahuan agama, sosial, maupun umum.
Hal inilah yang mendorong negara-negara di dunia berlomba meningkatkan mutu pendidikan sehingga dihasilkan manusia pembangunan yang dapat membangun diri dan bangsanya.
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas No. 20, 2003) Bab 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan kepribadian baik jasmani maupun rohani ke arah yang lebih baik dalam kehidupannya, sehingga semakin maju suatu masyarakat maka akan semakin penting pula adanya pendidikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak Bersamaan dengan itu Islam memandang pendidikan sebagai dasar utama seseorang diutamakan dan dimuliakan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur'an Surat al-Mujadalah ayat 11, berikut ini yang berbunyi :
Artinya: "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (QS, al-Mujadalah : 11).
Dalam proses pembelajaran terdapat tiga unsur yang turut menentukan kualitas output pendidikan yaitu kurikulum, tenaga pendidik dan peserta didik.
Pemerintah senantiasa berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui penyempurnaan kurikulum sehingga memiliki fleksibilitas terhadap kepentingan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memberi kesempatan yang lebih luas pada sekolah untuk merancang dan melaksanakan pendidikan berbasis kompetensi menuju kemandirian.
Keluaran yang dihasilkan diharapkan memiliki kompetensi dan life skill yang memadai sehingga memberi kontribusi optimal bagi kemajuan bangsa di masa mendatang.
Kedudukan guru dalam proses pembelajaran sudah tidak dapat lagi dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau sekolah, tetapi dianggap sebagai meneger of learning (pengelola belajar) yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu para siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh menyeluruh (Sobri Sutikno (2008:34).
Kegiatan belajar mengajar kita selama ini berorientasi semata-mata kepada penguasaan materi pelajaran (afektif). Sebagaimana dikatakan dalam sebuah artikel pendidikan www.dikmenum.go.id (Tn.2005:1) “pengamatan terhadap praktek pendidikan sehari-hari menunjukkan bahwa pendidikan difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi pelajaran kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan itu dicapai oleh siswa”.
Seakan-akan pendidikan bertujuan hanya untuk mengejar nilai yang berupa angka, sedangkan proses selama pembelajaran yang seyogyanya dijadikan kesempatan untuk menanamkan berbagai keaktifan, keterampilan atau kecakapan hidup, tidak diperhatikan.
Hal ini penyusun temui, pada saat melakukan praktek Program Profesi Lapangan (PPL) di salah satu Madrasah Aliyah (MA) Maarif Tandjungsari-Sumedang. Sebagian besar siswa tidak memiliki kemampuan dalam berdiskusi atau bekerjasama dalam kelompok, tidak berani berpendapat, menanggapi ataupun bertanya, meskipun tidak memahami suatu permasalahan dalam bentuk soal atau studi kasus yang dikemukakan oleh guru. Mereka sudah merasa aman dan nyaman dengan hanya duduk di kelas dan mendengarkan ceramah dari guru tanpa ada kemauan untuk belajar lebih banyak, lebih aktif dan berinisiatif.
Tentunya tidak semua kesalahan ada pada siswa, salah satu penyebab lain adalah siswa tidak dibiasakan untuk melatih kemampuannya dalam memahami masalah dan memecahkan masalah dengan sistematis serta tidak terbiasa untuk melakukan kegiatan bersama dalam kelompok. Jika dihubungkan dengan keaktifan yang semestinya dimiliki oleh siswa, hal ini terkait dengan keaktifan siswa baik secara lisan ataupun tertulis dan keaktifan bekerjasama.
Penyusun dapat menyimpulkan adanya kesulitan para pengajar dalam upaya mengefektifkan proses pembelajaran agar output yang dihasilkan sesuai dengan tujuan pendidikan dan tuntutan kurikulum. Diantaranya disebabkan oleh keterbatasan dalam pengelolaan kelas dan pemilihan metode atau model pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk lebih aktif serta memudahkan guru untuk menanamkan kecakapan hidup kepada siswanya.
Kualitas pembelajaran pada suatu sekolah dapat dilihat dari segi proses
dan segi hasil pembelajaran pada sekolah tersebut.
Apabila proses dan produknya baik, maka dapat dikatakan bahwa kualitas pembelajaran juga baik. Keberhasilan suatu pembelajaran dapat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan guru. Jika metode pembelajarannya menarik dan terpusat pada siswa (student-centered learning) maka motivasi dan perhatian siswa akan terbangkitkan sehingga akan terjadi peningkatan interaksi siswa dengan siswa dan siswa dengan guru sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat.
Hasil belajar yang akan diukur pada penelitian ini bersifat pengetahuan (kognitif) dan yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) siswa, karena menurut Muhibbin Syah (2008: 83) ranah psikologis siswa yang terpenting adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa).
Untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sangat dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang menunjang, kondisi kelas yang menyenangkan, terutama untuk mata pelajaran biologi pada sub materi peranan bakteri dalam kehidupan manusia. Metode pembelajaran yang dianggap cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah metode problem solving (pemecahan masalah), karena pada kenyataannya setiap manusia akan dihadapkan pada masalah.
Selain itu, siswa dilatih untuk saling berinteraksi, berkomunikasi dan bekerjasama, juga dilatih untuk siap berkompetisi dan mampu bersaing. Oleh karena itu, keaktifan hidup (Life skill) baik berupa keaktifan personal, sosial, akademik dan vokasional dapat terbentuk. Jika kondisi kelas menyenangkan menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan dengan senang dan tanpa merasa tertekan sehingga diharapkan akan terjadi perubahan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik maupun gaya hidupnya.
Berdasarkan penomena diatas, maka penulis mearsa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “PENGARUH PENGGUNAAN METODE PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA PADA SUB MATERI PERANAN BAKTERI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA” (Penelitian di kelas X MAN I Bayah)
Pendidikan merupakan petunjuk utama dalam kehidupan umat manusia. Melalui pendidikan, transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berlangsung secara berkesinambungan dari generasi ke generasi menuju peningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik itu pengetahuan agama, sosial, maupun umum.
Hal inilah yang mendorong negara-negara di dunia berlomba meningkatkan mutu pendidikan sehingga dihasilkan manusia pembangunan yang dapat membangun diri dan bangsanya.
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas No. 20, 2003) Bab 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan kepribadian baik jasmani maupun rohani ke arah yang lebih baik dalam kehidupannya, sehingga semakin maju suatu masyarakat maka akan semakin penting pula adanya pendidikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak Bersamaan dengan itu Islam memandang pendidikan sebagai dasar utama seseorang diutamakan dan dimuliakan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur'an Surat al-Mujadalah ayat 11, berikut ini yang berbunyi :
Artinya: "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (QS, al-Mujadalah : 11).
Dalam proses pembelajaran terdapat tiga unsur yang turut menentukan kualitas output pendidikan yaitu kurikulum, tenaga pendidik dan peserta didik.
Pemerintah senantiasa berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui penyempurnaan kurikulum sehingga memiliki fleksibilitas terhadap kepentingan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memberi kesempatan yang lebih luas pada sekolah untuk merancang dan melaksanakan pendidikan berbasis kompetensi menuju kemandirian.
Keluaran yang dihasilkan diharapkan memiliki kompetensi dan life skill yang memadai sehingga memberi kontribusi optimal bagi kemajuan bangsa di masa mendatang.
Kedudukan guru dalam proses pembelajaran sudah tidak dapat lagi dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau sekolah, tetapi dianggap sebagai meneger of learning (pengelola belajar) yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu para siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh menyeluruh (Sobri Sutikno (2008:34).
Kegiatan belajar mengajar kita selama ini berorientasi semata-mata kepada penguasaan materi pelajaran (afektif). Sebagaimana dikatakan dalam sebuah artikel pendidikan www.dikmenum.go.id (Tn.2005:1) “pengamatan terhadap praktek pendidikan sehari-hari menunjukkan bahwa pendidikan difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi pelajaran kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan itu dicapai oleh siswa”.
Seakan-akan pendidikan bertujuan hanya untuk mengejar nilai yang berupa angka, sedangkan proses selama pembelajaran yang seyogyanya dijadikan kesempatan untuk menanamkan berbagai keaktifan, keterampilan atau kecakapan hidup, tidak diperhatikan.
Hal ini penyusun temui, pada saat melakukan praktek Program Profesi Lapangan (PPL) di salah satu Madrasah Aliyah (MA) Maarif Tandjungsari-Sumedang. Sebagian besar siswa tidak memiliki kemampuan dalam berdiskusi atau bekerjasama dalam kelompok, tidak berani berpendapat, menanggapi ataupun bertanya, meskipun tidak memahami suatu permasalahan dalam bentuk soal atau studi kasus yang dikemukakan oleh guru. Mereka sudah merasa aman dan nyaman dengan hanya duduk di kelas dan mendengarkan ceramah dari guru tanpa ada kemauan untuk belajar lebih banyak, lebih aktif dan berinisiatif.
Tentunya tidak semua kesalahan ada pada siswa, salah satu penyebab lain adalah siswa tidak dibiasakan untuk melatih kemampuannya dalam memahami masalah dan memecahkan masalah dengan sistematis serta tidak terbiasa untuk melakukan kegiatan bersama dalam kelompok. Jika dihubungkan dengan keaktifan yang semestinya dimiliki oleh siswa, hal ini terkait dengan keaktifan siswa baik secara lisan ataupun tertulis dan keaktifan bekerjasama.
Penyusun dapat menyimpulkan adanya kesulitan para pengajar dalam upaya mengefektifkan proses pembelajaran agar output yang dihasilkan sesuai dengan tujuan pendidikan dan tuntutan kurikulum. Diantaranya disebabkan oleh keterbatasan dalam pengelolaan kelas dan pemilihan metode atau model pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk lebih aktif serta memudahkan guru untuk menanamkan kecakapan hidup kepada siswanya.
Kualitas pembelajaran pada suatu sekolah dapat dilihat dari segi proses
dan segi hasil pembelajaran pada sekolah tersebut.
Apabila proses dan produknya baik, maka dapat dikatakan bahwa kualitas pembelajaran juga baik. Keberhasilan suatu pembelajaran dapat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan guru. Jika metode pembelajarannya menarik dan terpusat pada siswa (student-centered learning) maka motivasi dan perhatian siswa akan terbangkitkan sehingga akan terjadi peningkatan interaksi siswa dengan siswa dan siswa dengan guru sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat.
Hasil belajar yang akan diukur pada penelitian ini bersifat pengetahuan (kognitif) dan yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) siswa, karena menurut Muhibbin Syah (2008: 83) ranah psikologis siswa yang terpenting adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa).
Untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sangat dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang menunjang, kondisi kelas yang menyenangkan, terutama untuk mata pelajaran biologi pada sub materi peranan bakteri dalam kehidupan manusia. Metode pembelajaran yang dianggap cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah metode problem solving (pemecahan masalah), karena pada kenyataannya setiap manusia akan dihadapkan pada masalah.
Selain itu, siswa dilatih untuk saling berinteraksi, berkomunikasi dan bekerjasama, juga dilatih untuk siap berkompetisi dan mampu bersaing. Oleh karena itu, keaktifan hidup (Life skill) baik berupa keaktifan personal, sosial, akademik dan vokasional dapat terbentuk. Jika kondisi kelas menyenangkan menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan dengan senang dan tanpa merasa tertekan sehingga diharapkan akan terjadi perubahan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik maupun gaya hidupnya.
Berdasarkan penomena diatas, maka penulis mearsa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “PENGARUH PENGGUNAAN METODE PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA PADA SUB MATERI PERANAN BAKTERI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA” (Penelitian di kelas X MAN I Bayah)
0 komentar:
Posting Komentar