Selamat datang di blog Yudi Friansyah, Semoga blog ini dapat bermanfaat untuk rekan semua

Sabtu, 06 Agustus 2011

Proposal Pendidikan Biologi

Posted by rafly 20.13, under | No comments

Penerapan Model Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada sub Materi Sistem Reproduksi Pria

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada dasarnya mendewasakan anak, demikian pula pendidikan di sekolah pada dasarnya menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu menerapkan serta mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai dengan kondisi sumber daya manusia (SDM). Menurut Syah (2008:10) Pendidikan dalam arti lebih luas adalah sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara yang sesuai dengan kebutuhan. Bersamaan dengan itu Islam memandang pendidikan sebagai dasar utama seseorang diutamakan dan dimuliakan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur'an Surat al-Mujadalah ayat 11, berikut ini yang Artinya:
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (QS, al-Mujadalah : 11).
Pendidikan di sekolah mempunyai tujuan untuk mengubah siswa agar dapat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap pelajar sebagai bentuk perubahan perilaku hasil belajar. Perubahan dari perilaku hasil belajar siswa biasanya dilakukan oleh guru dengan menggunakan beberapa metode dan kegiatan praktik untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar sehingga siswa aktif di dalamnya. Perubahan yang terjadi sebagai hasil yang telah dicapai seseorang yang menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), dan yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) maupun keterampilan (psikomotor). adanya perubahan tingkah laku tersebut merupakan prestasi.
Menurrut Sutikno. (2008:34). Kedudukan guru dalam proses pembelajaran sudah tidak dapat lagi dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau sekolah, tetapi dianggap sebagai meneger of learning (pengelola belajar) yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu para siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh menyeluruh hal ini diperkuat oleh Sudjana (2002: 12), yang menyatakan bahwa dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor, artinya pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Untuk memenuhi perannya tersebut, seorang guru memerlukan sebuah model mengajar sebagai alat yang akan menunjang pelaksanaan tugasnya di lapangan.
Banyak cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran. Namun demikian, banyak dijumpai bukti yang menunjukkan bahwa mutu proses pembelajaran di sekolahkurangmemuaskan,Halinipenyusun temui, pada saat melakukan praktek Program Profesi Lapangan (PPL) di salah satu sekolah menengah di SMAN xxxx. Sebagian besar siswa tidak memiliki kemampuan dalam berdiskusi atau bekerjasama dalam kelompok, tidak berani berpendapat, menanggapi ataupun bertanya, meskipun tidak memahami suatu permasalahan dalam bentuk soal atau studi kasus yang dikemukakan oleh guru. Mereka sudah merasa aman dan nyaman dengan hanya duduk di kelas dan mendengarkan ceramah dari guru tanpa ada kemauan untuk belajar lebih banyak, lebih aktif dan berinisiatif.
.Untuk itu perlu adanya inovasi berbagai strategi pendekatan agar proses pembelajaran efektif dan menyenangkan terutama untuk mata pelajaran biologi pada sub materi sistem reproduksi manusia sehingga tujuan utama peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai secara optimal. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru dapat memilih dan menggunakan beberapa metode dalam mengajar.
Pendekatan pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif yang efektif untuk mengembangkan ketrampilan sosial siswa yang tidak dapat ditemui pada metode konvensional yang hanya ceramah, memberi contoh dan memberi pekerjaan rumah.
Pendekatan pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan bagi siswa untuk bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik dengan teman sebaya, yang membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu. Menurut Trianto (2010:67), pembelajaran kooperatif terdapat beberapa variasi diantaranya tipe yang seharusnya merupakan bagian dari kumpulan strategi guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif, yaitu STAD, JIGSAW, Team Games Tournaments (TGT), Think Pair Share (TPS), dan Numbered Head Together (NHT).
Think Pair Share (TPS) merupakan jenis model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dimaksudkan sebagai alternatif pengganti terhadap struktur kelas tradisional. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota). Tipe TPS (Think Pair Share) memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain.teknik ini bias digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkat usia anak didik (Lie. 2007:57)
Materi Sistem reproduksi manusia merupakan materi yang erat kaitannya dengan siswa SMA. Mereka berada pada masa remaja dan sudah mengalami masa puber. Masa remaja merupakan tahap perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi (Samsu, 2008:184). Kematangan fisik yang dialami remaja tersebut dipelajari dalam materi sistem reproduksi manusia. Dengan demikian materi ini penting dan sesuai untuk dipelajari oleh siswa, khususnya siswa kelas XI yang sedang berada dalam masa remeja.
Berdasarkan uraian di atas, maka diadakanlah penelitian yang berjudul
“Penerapan Model Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada sub Materi Sistem Reproduksi Pria”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hasil belajar siswa pada pembelajaran sub materi sistem Reproduksi Pria dengan menggunakan model Think-Pair-Share (TPS)?
2. Bagaimana hasil belajar siswa pada pembelajaran sub materi sistem Reproduksi Pria tanpa menggunakan model Think-Pair-Share (TPS)?
3. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran sub materi sistem Pria antara pembelajaran menggunakan model think-pair-share (TPS) dengan tanpa model think-pair-share (TPS)?
4. Bagaimana respon siswa terhadap penerapanmodel pembelajaran Think-pair-Share (TPS) dengan mengggunakan metode ceramah pada sub materi sistem reproduksi pria?
C. Batasan Masalah
Agar masalah yang di teliti lebih jelas dan terarah, maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
1. Subjek yang diteliti adalah siswa SMA Negeri 26 Kota Bandung kelas XI IPA1 dan XI IPA2 semester 2 tahun ajaran 2010/2011
2. Materi yang disampaikan dalam penelitian ini adalah sistem Reproduksi Manusia (laki-laki).
3. Model pembelajaran yang diterapkan adalah model Think-Pair-Share (TPS)
4. Objek yang diukur adalah bagaimana hasil belajar siswa pada ranah kognitif.
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui :
a) Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pembelajaran sub materi sistem reproduksi Pria dengan menggunakan metode Think-Pair-Share (TPS).
b) Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pembelajaran sub materi sistem reproduksi Pria tanpa menggunakan metode Think-Pair-Share (TPS).
c) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran sub materi sistem Pria antara pembelajaran menggunakan model Think-Pair-Share (TPS) dengan tanpa model Think-Pair-Share (TPS).
d) Untuk mengetahui respon siswa erhadap penerapanmodel pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dengan mengggunakan metode ceramah pada sub materi sistem reproduksi pria?
E. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a) Bagi Guru
Sebagai masukan yang positif bagi para guru, khususnya guru biologi dalam memberikan alternatif metode mengajar agar siswa termotivasi untuk mempelajari biologi

b) Bagi Siswa
Dengan metode Think-Pair-Share (TPS), akan menambah pengetahuan, pemahaman, dan melatih siswa dalam memecahkan masalah, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada sub materi sistem Reproduksi pada Pria
F. Kerangka Pemikiran
Seberapa baik dan tepat materi biologi yang ditetapkan belum tentu akan menjamin pendidikan biologi yang dirumuskan. Salah satu faktor yang penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah proses belajar mengajar yang dilaksanakan. Agar dalam menyampaikan pelajaran biologi mudah dipahami, maka guru harus pandai memilih metode mengajar sesuai dengan materi yang akan disampaikannya karena merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan (Syah, 2008:223) walaupun dalam pelaksanaannya banyak kelebihan dan kekurangan dari tiap-tiap metode yang disampaikan kepada siswa.
Salah satu model yang biasa diterapkan oleh guru dalam kelas adalah model pembelajaran konvensional atau ceramah yang bila tidak dikemas dengan baik tidak akan menarik perhatian siswa. Pembelajaran konvensional cendrung meminimalkan keterlibatan siswa sehingga guru nampak lebih aktif. Kebiasaan bersikap pasif dalam proses pembelajaran dapat mengakibatkan sebagian besar siswa takut dan malu bertanya pada guru mengenai materi yang kurang dipaham. Suasana kelas akan menjadi sangat monoton dan kurang menarik untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu model pembelajaran yang lebih tepat dan menarik, dimana siswa dapat belajar secara kooperatif, dapat bertanya meskipun bukan pada guru secara langsung, dan mengemukakan pendapat. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)
Pembelajaran dengan menggunakan model Think-Pair-Share (TPS) dipilih karena dapat mengarahkan semua siswa agar aktif ketika kegiatan belajar berlangsung serta dalam pelaksanaanya terstruktur. Hal ini diperkuat oleh Trianto (2009 : 81) yang menyatakan bahwa Think-Pair-Share (TPS) merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas, dengan asumsi semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan prosedur yang digunakan dalam Think-Pair-Share (TPS) dapat memberikan siswa lebih banyak waktu berfikir untuk merespons dan saling membantu. sedangkan dalam pembelajaran konvensional menekankan pembelajaran individu dengan guru sebagai pusat kegiatan. Penyajian masalah dalam pembelajaran think-pair-share (TPS) yang kontekstual melatih siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep-konsep biologi.
Seperti namanya “Think”, pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pembelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberikan kesempatan kepada mereka untuk memikirkan jawabanya. Selanjutnya “Pairing”. Pada tahap ini guru meminta peserta didik berpasanga-pasangan. Memberikan kesempatan kepada pasangan-pasangan itu untuk berdiskusi. Diharapakan diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban yag telah dipikirkan melaui insubjektif dengan pasanganya. Hasil bicara insubjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Tahap ini kenal dengan “Sharing” dalam tahap ni diharapkan terjadi Tanya jawab yang mendorong pada pengkontruksian pengetahuan secara integrative. Peserta didik dapat menemukan struktur pengetahuan yang dipelajarinya. (Suprijono, 2010 : 91)
Penerapan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) diharapakan dapat membantu para siswa untuk mengembangkan pemahaman konsep, dan materi pelajaran, pengembangan kemampuan untuk berbagi informasi dan menarik kesimpulan serta mengembangkan kemampuan untuk mempertimbangkan nilai-nilai dari suatu materi pelajaran terutama materi pokok sistem reproduksi pria.
G. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, diamana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiyono, 2009:64).
Untuk mempermudah penyusunan dalam penelitian, digunakan hipotesis nihil (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha) pertimbangan untuk hipotesis penelitian yaitu:
Ho : tidak terdapat peningkatan hasil belajar kognitif siswa dengan menggunakan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) pada materi sistem Reproduksi Pria.
Ha : terdapat penigkatan hasil belajar kognitif siswa dengan mengguunakan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) pada materi sistem Reproduksi Pria.
H. Langkah-Langkah Penelitian
1. Menentukan Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif bersumber pada hasil pengumpulan data melalui observasi. Sedangkan data kuantitatif bersumber dari sejumlah pertanyaan dalam bentuk angket dan tes yang diberikan pada sejumlah siswa yang telah menjadi sampel penelitian.
2. Sumber Data
a. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan disekolah SMA Negeri 26 Kota Bandung, dengan alasan di sekolah tersebut terdapat data yang menunjang terhadap masalah yang akan dijadikan penelitian dan belum ada yang melakukan penelitian sejenis.
b. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya (Sugiyono; 2008:117).
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 26 kota Bandung yang berjumlah 114 siswa yang terdiri dari tiga kelas.
c. Sampel
Sempel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono; 2008:118). teknik pengambilan sempel tersebut yaitu dengan menggunakan teknik Cluster Random Sampling adalah teknik penentuan sempel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono; 2008:118).
Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA1 dan XI IPA2 SMA Negeri 26 kota Bandung yang berjumlah 76 siswa yang terdiri dari dua kelas kelas kontrol dan kelas eksperimen.
3. Desain Penelitian
Populasi yang ada, diambil dua kelas sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen. dalam penelitian ini menggunakan model nonequivalent control group yaitu kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak di pilih secara acak.
4. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
a. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode “quasi exsperiment design”. Metode ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari suatu perlakuan. Penelitian eksperimen bertujuan untuk meneliti ada tidaknya sebab akibat (Arikunto, 2000:272).
b. Teknik Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data guna melengkapi penelitian yang akan dilaksanakan maka digunakan teknik penelitian sebagai berikut:
1) Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dimana akan diadakan pengamatan terhadap objek yang akan diteliti. Observasi ini digunakan untuk mengumpulkan sejumlah data tentang proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di kelas XI SMAN 26 Kota Bandung.
2)Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok (Arikunto, 2006 :150)
Tes tertulis pada dasarnya ditunjukan untuk mengukur tingkat penguasaan dan kemampuan para peserta didik setelah mereka selama waktu tertentu menerima proses belajar mengajar dari guru. Tes tersebut umumnya untuk mengukur tingkat penguasaan dan kemampuan peserta didik (prestasi kognitif) dan ilmu pengetahuan yang telah ditentukan (Sukardi, 2003:139). Tes yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah tes objektif pilihan ganda sebanyak 30 butir soal dengan 5 option (a, b, c, d dan e). Sebelum diberikan kepada siswa, instrument ini diujicobakan terlebih dahulu, dan tiap-tiap soal dianalisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda dari setiap soal.
Untuk keperluan penelitian di kumpulkan data yang diperoleh dari hasil pre-tes dari kelas eksperimen yang diberikan perlakuan dan dari hasil pre-tes kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan, dan dari hasil post-tes dari kelas eksperimen yang diberikan perlakuan dan dari hasil post-tes dari kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan.
4. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
a. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode “quasi exsperiment design”. Metode ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari suatu perlakuan. Penelitian eksperimen bertujuan untuk meneliti ada tidaknya sebab akibat (Arikunto, 2000:272).
b. Teknik Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data guna melengkapi penelitian yang akan dilaksanakan maka digunakan teknik penelitian sebagai berikut:
1) Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dimana akan diadakan pengamatan terhadap objek yang akan diteliti. Observasi ini digunakan untuk mengumpulkan sejumlah data tentang proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di kelas XI SMAN 26 Kota Bandung.
2) Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok (Arikunto, 2006 :150)
Tes tertulis pada dasarnya ditunjukan untuk mengukur tingkat penguasaan dan kemampuan para peserta didik setelah mereka selama waktu tertentu menerima proses belajar mengajar dari guru. Tes tersebut umumnya untuk mengukur tingkat penguasaan dan kemampuan peserta didik (prestasi kognitif) dan ilmu pengetahuan yang telah ditentukan (Sukardi, 2003:139). Tes yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah tes objektif pilihan ganda sebanyak 30 butir soal dengan 5 option (a, b, c, d dan e). Sebelum diberikan kepada siswa, instrument ini diujicobakan terlebih dahulu, dan tiap-tiap soal dianalisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda dari setiap soal.
Untuk keperluan penelitian di kumpulkan data yang diperoleh dari hasil pre-tes dari kelas eksperimen yang diberikan perlakuan dan dari hasil pre-tes kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan, dan dari hasil post-tes dari kelas eksperimen yang diberikan perlakuan dan dari hasil post-tes dari kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan.
3) Angket atau Kuesioner (Questionnaire)
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden (Arikunto,2006:151). Dalam angket ini memuat pernyataan-pernyataan tentang fakta dan respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share (TPS) dan yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share (TPS). Analisis angket ini menggunakan skala likert dengan kualifikasi jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Kurang setuju (KS), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS); yang diberikan kepada siswa setelah dilakukan kegiatan belajar mengajar.
4) Studi Kepustakaan
Studi ini dimaksudkan untuk menghimpun data yang dianggap relevan melalui literatur sebagai kajian teoritis. Peneliti membaca karya ilmiah dan mengutip beberapa pendapat yang ada hubungannya dengan masalah yang sedang diteliti.
5. Analisis Hasil Penelitian
Setelah data terkumpul dari tes yang diperoleh dari dua kelompok tersebut, maka dilakukan analisis data sebagai berikut:
1. Menyusun data hasil tes awal dan akhir kedua kelompok
2. Mencari N-Gain (NG) per indikator dan per siswa
6. Prosedur penelitian
Secara garis besar penelitian dibagi menjadi tiga tahap yaitu:
1. Tahap persiapan
a. Melakukan studi pendahuluan terhadap sekolah yang akan menjadi tempat penelitian
b. Melakukan analisis KTSP dan telaah pustaka untuk menyusun rencana pembelajaran pada sub materi pokok sistem reproduksi Manusia (Pria).
c. Menyusun kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif Think- Pair-Share (TPS)
d. Menyusun alat pengumpul data berupa test dan angket.
2. Tahap pelaksanaan
a. Melaksanakan penelitian pada siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 semester 2 SMAN 26 Kota Bandung. Memberikan pretest pada siswa sebelum pembelajaran.
b. Melakukan pembelajaran dengan mengunakan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dan tanpa Think-Pair-Share (TPS).
c. Memeberikan posttest pada siswa setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share (TPS) dan tanpa Think-Pair-Share (TPS).
3. Tahap akhir
a. Menarik kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah dan dianalisis terlebih dahulu.
b. Melaporkan hasil penelitian.

0 komentar:

Posting Komentar